B1

Subjonctif présent dalam bahasa Prancis

Subjonctif Présent

Artikel ini merupakan bagian dari pohon tata bahasa Prancis di Settemila Lingue.

Ringkasnya

Subjonctif présent adalah modus verba (cara bentuk kata kerja menunjukkan sikap penutur) yang terutama dipakai dalam anak kalimat berawalan que setelah ungkapan keharusan, keinginan, emosi, atau keraguan: Il faut que tu viennes berarti “Kamu harus datang.” Untuk sebagian besar verba, bentuknya dibuat dari bentuk ils pada présent de l’indicatif tanpa -ent, lalu ditambah akhiran -e, -es, -e, -ions, -iez, -ent.

Gambaran Umum

Dalam bahasa Indonesia, gagasan seperti harapan, keharusan, dan keraguan biasanya disampaikan dengan kata seperti “ingin”, “harus”, “agar”, “semoga”, atau “mungkin”. Bentuk verba setelahnya tidak berubah. Bahasa Prancis berbeda: sikap penutur dapat menentukan modus verba. Bentuk biasa yang menyampaikan fakta disebut indicatif, sedangkan subjonctif sering menandai hal yang diinginkan, dinilai, diragukan, atau belum dipastikan sebagai fakta.

Topik tingkat B1 ini paling sering muncul dalam pola ungkapan utama + que + subjek + verba dalam subjonctif. Bandingkan Je sais qu’il vient (“Saya tahu bahwa dia datang”), yang menyatakan kepastian, dengan Je doute qu’il vienne (“Saya ragu bahwa dia datang”), yang menyatakan keraguan. Kata que sendiri tidak otomatis mengharuskan subjonctif; makna dan struktur sebelum que-lah yang menentukan.

Nama “présent” tidak berarti tindakan itu selalu terjadi sekarang. Je veux qu’il vienne demain memakai subjonctif présent walaupun kedatangannya berlangsung besok. Bentuk ini menunjukkan bahwa tindakan berlangsung bersamaan dengan atau sesudah tindakan pada klausa utama. Untuk tindakan yang sudah selesai lebih dahulu, bahasa Prancis memakai subjonctif passé.

Cara Kerjanya

Pola kalimat dasar

Pola yang paling umum adalah:

subjek 1 + ungkapan pemicu + que/qu’ + subjek 2 + subjonctif

  • Je veux que tu viennes. — Saya ingin kamu datang.
  • Il faut qu’elle parte. — Dia harus pergi.
  • Nous sommes contents que vous soyez ici. — Kami senang kalian berada di sini.

Adanya dua subjek penting. Jika pelakunya sama, bahasa Prancis biasanya memakai infinitif (bentuk dasar verba), bukan que + subjonctif:

  • Je veux partir. — Saya ingin pergi.
  • Je veux que tu partes. — Saya ingin kamu pergi.
  • Il est content d’être ici. — Dia senang berada di sini.
  • Il est content que vous soyez ici. — Dia senang Anda berada di sini.

Bagi penutur bahasa Indonesia, perbedaan ini perlu dilatih secara khusus. Kalimat “Saya ingin pergi” dan “Saya ingin kamu pergi” sama-sama dapat memakai “ingin”, tetapi bahasa Prancis memilih dua susunan yang berbeda menurut siapa pelakunya.

Membentuk subjonctif présent

Untuk kebanyakan verba, ambil bentuk orang ketiga jamak ils pada présent de l’indicatif, hilangkan -ent, lalu tambahkan akhiran berikut.

Persona Akhiran parler finir attendre
que je/j’ -e parle finisse attende
que tu -es parles finisses attendes
qu’il/elle/on -e parle finisse attende
que nous -ions parlions finissions attendions
que vous -iez parliez finissiez attendiez
qu’ils/elles -ent parlent finissent attendent

Contohnya, ils finissent menghasilkan pangkal finiss- dan bentuk que je finisse. Akhiran tertulis -ent pada qu’ils parlent tidak diucapkan. Karena itu, pada banyak verba, bentuk je, tu, il/elle/on, dan ils/elles terdengar sama meskipun ejaannya berbeda.

Untuk verba -er yang teratur, bentuk subjonctif sering sama tulisannya dengan présent de l’indicatif pada beberapa persona: je parle dan que je parle. Modusnya dapat dikenali dari susunan kalimat dan ungkapan pemicunya, bukan selalu dari bunyi atau ejaan verbanya.

Verba dengan dua pangkal

Beberapa verba mempunyai satu pangkal untuk je, tu, il/elle/on, ils/elles, tetapi pangkal lain untuk nous dan vous. Pangkal pertama biasanya berasal dari bentuk ils présent; pangkal kedua berasal dari bentuk nous présent tanpa -ons.

Verba Pangkal tunggal/jamak orang ketiga Pangkal nous/vous Contoh
venir vienn- ven- que je vienne, que nous venions
prendre prenn- pren- qu’il prenne, que vous preniez
boire boiv- buv- qu’elles boivent, que nous buvions
devoir doiv- dev- que tu doives, que vous deviez
recevoir reçoiv- recev- qu’on reçoive, que nous recevions

Jadi, aturan “pangkal ils + akhiran” sangat membantu, tetapi tidak cukup untuk semua bentuk nous dan vous.

Bentuk tak beraturan yang wajib dikuasai

Enam verba berikut sangat sering dipakai dan perlu dihafalkan sebagai satu paradigma lengkap.

Persona être avoir aller faire pouvoir savoir
que je/j’ sois aie aille fasse puisse sache
que tu sois aies ailles fasses puisses saches
qu’il/elle/on soit ait aille fasse puisse sache
que nous soyons ayons allions fassions puissions sachions
que vous soyez ayez alliez fassiez puissiez sachiez
qu’ils/elles soient aient aillent fassent puissent sachent

Perhatikan que nous allions dan que vous alliez: bentuk ini sama dengan imparfait de l’indicatif, sehingga kontekslah yang membedakannya. Verba être dan avoir juga dipakai sebagai verba bantu untuk membentuk subjonctif passé, jadi paradigma keduanya sangat berguna untuk tahap berikutnya.

Pemicu utama

Artikel ini berfokus pada bentuk subjonctif présent, tetapi bentuk tersebut selalu muncul dalam suatu konteks. Kelompok pemicu yang paling berguna pada tingkat B1 ialah:

  • Keharusan atau penilaian: il faut que, il est nécessaire que, il est important que, il vaut mieux que
  • Keinginan atau perintah: vouloir que, souhaiter que, préférer que, demander que, interdire que
  • Emosi: être content que, être triste que, avoir peur que, regretter que
  • Keraguan atau ketidakpastian: douter que, il est possible que, ne pas croire que, ne pas penser que
  • Konjungsi tertentu: bien que (meskipun), pour que (agar), avant que (sebelum), sans que (tanpa), à condition que (dengan syarat)

Tidak semua ungkapan yang mirip memakai subjonctif. Je pense que, je crois que, dan il est certain que dalam bentuk afirmatif biasanya diikuti indicatif karena menyajikan isi klausa sebagai sesuatu yang dianggap benar. Espérer que juga biasanya diikuti indicatif: J’espère qu’il viendra (“Saya berharap dia akan datang”).

Contoh dalam Konteks

Bahasa Prancis Bahasa Indonesia Catatan
Il faut que tu viennes. Kamu harus datang. Keharusan; venir → viennes.
Je veux que tu sois heureux. Saya ingin kamu bahagia. Keinginan; bentuk tak beraturan sois.
Je suis content qu’il aille mieux. Saya senang kondisinya membaik. Emosi; aller → aille.
Bien qu’il fasse froid, nous sortons. Meskipun cuaca dingin, kami tetap keluar. Bien que selalu diikuti subjonctif.
Nous préférons que vous arriviez avant huit heures. Kami lebih suka Anda tiba sebelum pukul delapan. Keinginan; bentuk vous berakhiran -iez.
Elle doute que ce soit vrai. Dia meragukan bahwa itu benar. Keraguan; être → soit.
Il est possible qu’ils aient raison. Mungkin mereka benar. Kemungkinan, bukan kepastian.
Ferme la fenêtre pour que le bébé puisse dormir. Tutup jendelanya agar bayi itu bisa tidur. Pour que menyatakan tujuan dengan subjek berbeda.
Partons avant qu’il pleuve. Mari berangkat sebelum hujan turun. Avant que diikuti subjonctif.
Je ne pense pas qu’elle sache la réponse. Saya rasa dia tidak tahu jawabannya. Pendapat yang dinegasikan menjadi tidak pasti.
Le médecin demande que vous preniez ce médicament. Dokter meminta Anda meminum obat ini. Permintaan; prendre memiliki pangkal pren- untuk vous.
Je voulais qu’il vienne avec nous. Saya ingin dia ikut bersama kami. Klausa utama lampau; bahasa Prancis modern tetap memakai subjonctif présent.
À condition que tu finisses ton travail, tu peux sortir. Dengan syarat kamu menyelesaikan pekerjaanmu, kamu boleh keluar. Syarat; finir → finisses.
Quoi qu’il arrive, appelle-moi. Apa pun yang terjadi, telepon saya. Ungkapan tetap quoi que memakai subjonctif.

Kesalahan Umum

Memakai indicatif setelah pemicu yang jelas

  • Keliru: Il faut que tu viens.
  • Benar: Il faut que tu viennes.
  • Alasannya: Il faut que menyatakan keharusan dan menuntut subjonctif. Bentuk tu viens adalah indicatif; bentuk subjonctifnya tu viennes.

Menganggap setiap que memicu subjonctif

  • Keliru: Je sais qu’il soit à Paris.
  • Benar: Je sais qu’il est à Paris.
  • Alasannya: Savoir di sini menyatakan pengetahuan atau kepastian, jadi dipakai indicatif. Que hanya menghubungkan dua klausa; kata itu bukan pemicu otomatis.

Memakai que ketika subjeknya sama

  • Keliru: Je veux que je parte tôt.
  • Benar: Je veux partir tôt.
  • Alasannya: Jika yang menginginkan dan yang pergi adalah orang yang sama, gunakan infinitif. Je veux que tu partes benar karena pelakunya berbeda.

Menggunakan satu pangkal untuk semua persona

  • Keliru: Il faut que nous viennions tôt.
  • Benar: Il faut que nous venions tôt.
  • Alasannya: Venir memakai pangkal vienn- untuk je, tu, il/elle/on, dan ils/elles, tetapi ven- untuk nous dan vous.

Mengikuti pola bahasa Indonesia tanpa mengubah verba

  • Keliru: Je suis heureuse que tu es ici.
  • Benar: Je suis heureuse que tu sois ici.
  • Alasannya: Dalam bahasa Indonesia, “Saya senang kamu ada di sini” tidak memerlukan perubahan bentuk “ada”. Dalam bahasa Prancis, emosi terhadap suatu keadaan memicu subjonctif: sois, bukan es.

Memakai subjonctif setelah espérer que

  • Keliru: J’espère qu’il vienne demain.
  • Benar: J’espère qu’il viendra demain.
  • Alasannya: Walaupun bermakna “berharap”, espérer que dalam kalimat afirmatif lazimnya diikuti indicatif; untuk kejadian mendatang, futur seperti viendra sangat umum.

Catatan Pemakaian

Dalam percakapan, subjonctif bukan bentuk yang langka atau khusus bahasa resmi. Bentuk seperti il faut que j’aille, je veux que tu sois…, dan pour qu’on puisse… muncul setiap hari. Namun, banyak bentuknya berbunyi sama dengan indicatif. Jangan menunggu selalu mendengar perbedaan yang tegas; kenali juga ungkapan pemicu dan susunan kalimatnya.

Kepastian dan negasi perlu diperhatikan. Je crois qu’il est prêt menyatakan bahwa penutur menganggap “dia siap” sebagai fakta. Je ne crois pas qu’il soit prêt menjauhkan penutur dari kepastian itu dan biasanya memakai subjonctif. Dalam pertanyaan, pilihan modus dapat mencerminkan sikap: Croyez-vous qu’il est prêt ? cenderung mengharapkan atau mempertimbangkan jawaban faktual, sedangkan Croyez-vous qu’il soit prêt ? lebih menonjolkan keraguan. Pada tingkat B1, aman untuk mengenali bahwa bentuk negatif dan pertanyaan sering membuka jalan bagi subjonctif, tetapi konteks tetap berperan.

Dalam bahasa Prancis baku, après que diikuti indicatif karena tindakan sesudahnya dipandang sebagai fakta: Après qu’il est parti… atau, menurut konteks waktu, bentuk indicatif lain. Subjonctif setelah après que cukup sering terdengar dari penutur asli karena pengaruh avant que, tetapi bentuk itu tetap sering dianggap tidak baku dalam tulisan yang disunting.

Pada tulisan maupun percakapan, on sangat sering menggantikan nous, tetapi verbanya tetap orang ketiga tunggal: Il faut qu’on parte. Bentuk que nous partions tetap benar dan lazim dalam ragam yang lebih formal atau ketika “kami” perlu dinyatakan secara tegas.

Lebih Lanjut: Pemakaian Tingkat Lanjut

Waktu relatif, bukan sekadar “sekarang”

Subjonctif présent dapat merujuk ke masa kini atau masa depan relatif terhadap klausa utama:

  • Je veux qu’elle parte maintenant. — Saya ingin dia pergi sekarang.
  • Je veux qu’elle parte demain. — Saya ingin dia pergi besok.
  • Je voulais qu’elle parte le lendemain. — Saya ingin dia pergi keesokan harinya.

Dalam bahasa Prancis modern, bentuk ini tetap dipakai setelah klausa utama lampau. Je voulais qu’il vienne adalah bentuk normal. Subjonctif imparfait seperti qu’il vînt kini terutama dijumpai dalam sastra atau gaya yang sangat resmi dan bukan pengganti sehari-hari yang perlu dipakai oleh pelajar B1.

Jika tindakan anak kalimat sudah terjadi lebih dahulu, gunakan subjonctif passé: Je suis content que tu sois venu (“Saya senang kamu sudah datang”). Perbedaannya bukan kepastian lawan ketidakpastian, melainkan hubungan waktu: que tu viennes untuk tindakan yang berlangsung atau akan berlangsung, que tu sois venu untuk tindakan yang telah selesai.

Klausa relatif dan bentuk superlatif

Subjonctif juga dapat muncul dalam klausa relatif (bagian kalimat yang menerangkan nomina) jika orang atau benda yang dicari belum tentu ada:

  • Je cherche quelqu’un qui puisse m’aider. — Saya mencari seseorang yang dapat membantu saya.
  • Je connais quelqu’un qui peut m’aider. — Saya mengenal seseorang yang dapat membantu saya.

Kalimat pertama belum memastikan orang tersebut ditemukan, sedangkan kalimat kedua merujuk pada orang yang nyata dan dikenal. Setelah superlatif atau penilaian sangat kuat, subjonctif juga lazim: C’est le meilleur film que j’aie vu (“Itu film terbaik yang pernah saya tonton”).

Ne yang bukan penyangkalan

Setelah beberapa ungkapan seperti avant que atau avoir peur que, terutama dalam ragam resmi, dapat muncul ne explétif—ne yang tidak bermakna “tidak”:

  • Partons avant qu’il ne soit trop tard. — Mari pergi sebelum terlambat.
  • J’ai peur qu’il ne tombe. — Saya takut dia jatuh.

Tanpa pas, ne di sini bukan negasi. J’ai peur qu’il ne tombe berarti penutur takut dia akan jatuh, bukan takut dia tidak jatuh. Dalam percakapan, ne explétif sering dihilangkan.

Beberapa bentuk tambahan

Vouloir mempunyai bentuk veuille, veuilles, veuille, voulions, vouliez, veuillent. Bentuk veuillez juga muncul sebagai perintah sopan, misalnya Veuillez patienter (“Mohon menunggu”), meskipun secara fungsi kalimat itu bukan anak kalimat subjonctif. Verba impersonal falloir hanya lazim pada orang ketiga tunggal: qu’il faille. Bentuk-bentuk ini berguna untuk dikenali setelah enam verba tak beraturan utama sudah dikuasai.

Tips Latihan

  1. Hafalkan dalam potongan kalimat, bukan sebagai daftar lepas. Ulangi pola seperti il faut que je sois, il faut que tu aies, dan il faut qu’on puisse. Dengan begitu, bentuk dan pemicunya tersimpan bersama.
  2. Latih pasangan dua subjek. Buat pasangan seperti Je préfère rester dan Je préfère que vous restiez. Latihan ini membantu membedakan infinitif dari que + subjonctif, perbedaan yang tidak ditandai oleh perubahan verba dalam bahasa Indonesia.
  3. Kelompokkan verba menurut pangkal. Mulailah dengan verba -er, lalu verba berakhiran -iss- seperti finir, kemudian pasangan dua pangkal seperti vienne/venions. Rekam atau ucapkan kalimat keras-keras agar bentuk yang ejaannya berbeda tetapi bunyinya sama tetap dikenali.

Konsep Terkait

  • Prasyarat: Verba -ER beraturan — dasar untuk memahami persona, pangkal, dan akhiran verba Prancis.
  • Langkah berikutnya: Pemicu subjonctif — membahas lebih rinci ungkapan yang memilih subjonctif atau indicatif.
  • Langkah berikutnya: Subjonctif passé — untuk tindakan subjonctif yang sudah selesai lebih dahulu.
  • Tingkat lanjut: Subjonctif imparfait — bentuk sastra dan historis yang kini jarang dipakai dalam percakapan.

Prasyarat

Kata Kerja -ER Beraturan dalam Bahasa PrancisA1

Konsep yang dibangun di atas ini

Konsep B1 lainnya

Konsep ini dalam bahasa lain

Bandingkan di semua bahasa