C1

Subjonctif imparfait dalam bahasa Prancis

Subjonctif Imparfait

Artikel ini merupakan bagian dari pohon tata bahasa Prancis di Settemila Lingue.

Ringkasnya

Subjonctif imparfait adalah bentuk subjungtif lampau yang terutama dijumpai dalam sastra dan tulisan yang sangat resmi: Je voulais qu'il vînt (“Saya ingin agar dia datang”). Bentuk ini dibuat dari akar passé simple dengan akhiran -sse, -sses, -̂t, -ssions, -ssiez, -ssent. Dalam bahasa Prancis modern sehari-hari, penutur hampir selalu menggantinya dengan subjonctif présent: Je voulais qu'il vienne.

Gambaran Umum

Subjonctif adalah modus verba (cara bentuk verba menunjukkan sikap penutur) yang dipakai ketika isi anak kalimat dipandang sebagai keinginan, keharusan, keraguan, penilaian, tujuan, atau hal yang belum dinyatakan sebagai fakta. Subjonctif imparfait merupakan salah satu bentuk lampaunya. Nama imparfait di sini tidak berarti bahwa pemakaiannya sama dengan indicatif imparfait seperti il venait. Keduanya berada dalam modus yang berbeda.

Dalam aturan klasik tentang concordance des temps atau kesesuaian kala, verba utama yang berada pada masa lampau atau bentuk kondisional diikuti subjonctif imparfait jika tindakan dalam anak kalimat berlangsung bersamaan atau sesudah tindakan utama. Karena itu, teks sastra dapat memakai Je voulais qu'il vînt, sedangkan percakapan masa kini memakai Je voulais qu'il vienne. Perbedaannya terutama menyangkut ragam bahasa, bukan makna pokok.

Topik tingkat C1 ini lebih penting untuk dipahami saat membaca daripada dipakai secara aktif dalam percakapan. Bentuk seperti fût, eût, vînt, dan partît sering muncul dalam novel klasik, sejarah, pidato lama, serta tulisan yang sengaja meniru gaya lama. Mengenalinya mencegah salah tafsir, terutama karena beberapa bentuk sangat berbeda dari infinitifnya (bentuk dasar verba), misalnya venir → vînt dan être → fût.

Cara Kerjanya

Kapan bentuk ini muncul?

Subjonctif imparfait tidak muncul hanya karena kalimat membicarakan masa lampau. Anak kalimatnya tetap harus berada dalam konteks yang menuntut subjungtif. Pola klasik yang paling umum ialah:

verba utama lampau atau kondisional + que + subjonctif imparfait

  • keinginan: Je désirais qu'il revînt. — Saya menginginkan agar dia kembali.
  • keharusan: Il fallait que nous partissions. — Kami harus pergi.
  • perasaan atau penilaian: Elle regrettait que tu fusses absent. — Ia menyesalkan bahwa Anda tidak hadir.
  • tujuan: Il ferma la porte afin que personne n'entrât. — Ia menutup pintu agar tidak seorang pun masuk.
  • konsesi: Bien qu'il fût tard, ils continuèrent. — Walaupun sudah larut, mereka melanjutkan.

Subjek (pelaku atau pokok kalimat) pada anak kalimat biasanya berbeda dari subjek verba utama. Jika subjeknya sama, bahasa Prancis sering memilih infinitif: Il partit sans rien dire lebih alami daripada membuat anak kalimat baru dengan qu'il....

Membentuk akar

Cara praktisnya adalah mengambil bentuk orang ketiga tunggal passé simple, menghapus -t terakhir jika ada, lalu menambahkan akhiran subjonctif imparfait.

Infinitif Orang ketiga passé simple Akar Contoh bentuk
parler il parla parla- qu'il parlât
finir il finit fini- qu'il finît
prendre il prit pri- qu'il prît
venir il vint vin- qu'il vînt
avoir il eut eu- qu'il eût
être il fut fu- qu'il fût

Rumus ini sangat berguna karena bentuk tak beraturan pada subjonctif imparfait mengikuti ketakteraturan passé simple. Namun, saat menambahkan akhiran yang dimulai dengan ss, beberapa akar tampak berubah: vin- menjadi vinsse, pri- menjadi prisse, dan fu- menjadi fusse.

Akhiran lengkap

Orang Akhiran parler finir venir
je -sse que je parlasse que je finisse que je vinsse
tu -sses que tu parlasses que tu finisses que tu vinsses
il / elle / on -̂t qu'il parlât qu'elle finît qu'il vînt
nous -ssions que nous parlassions que nous finissions que nous vinssions
vous -ssiez que vous parlassiez que vous finissiez que vous vinssiez
ils / elles -ssent qu'ils parlassent qu'elles finissent qu'ils vinssent

Tanda -̂t berarti bahwa orang ketiga tunggal berakhir dengan huruf t dan vokal sebelumnya memakai aksen sirkumfleks: -ât, -ît, -ût. Aksen ini wajib dalam ejaan: qu'il parla bukan bentuk subjungtif, sedangkan qu'il parlât adalah subjonctif imparfait.

Untuk verba berakhiran -er, bentuk je, tu, dan ils/elles biasanya terdengar sama: parlasse, parlasses, parlassent. Perbedaannya tampak dalam tulisan. Pada orang ketiga tunggal, parla dan parlât juga diucapkan sama; konteks serta aksen membedakannya dalam teks.

Bentuk tak beraturan yang penting

Infinitif je il / elle nous ils / elles
être fusse fût fussions fussent
avoir eusse eût eussions eussent
faire fisse fît fissions fissent
pouvoir pusse pût pussions pussent
savoir susse sût sussions sussent
vouloir voulusse voulût voulussions voulussent
devoir dusse dût dussions dussent
voir visse vît vissions vissent
croire crusse crût crussions crussent
recevoir reçusse reçût reçussions reçussent

Anda tidak perlu langsung menghafal semua bentuk orang. Dalam bacaan, orang ketiga tunggal dan jamak paling sering penting karena narasi banyak membicarakan il, elle, ils, atau elles. Mulailah dengan mengenali pasangan fût/fussent, eût/eussent, dan vînt/vinssent.

Hubungannya dengan waktu tindakan

Dalam sistem klasik, subjonctif imparfait menyatakan tindakan yang bersamaan dengan atau lebih kemudian daripada acuan lampau:

  • Il souhaitait que Marie restât. — Ia berharap Marie tetap tinggal.
  • Le roi ordonna que les portes fussent fermées. — Raja memerintahkan agar pintu-pintu ditutup.

Jika tindakan anak kalimat sudah selesai sebelum acuan lampau, ragam klasik memakai subjonctif plus-que-parfait:

  • Il regrettait qu'elle fût partie. — Ia menyesalkan bahwa perempuan itu telah pergi.

Perhatikan perbedaannya: fût sendiri adalah subjonctif imparfait dari être, sedangkan fût partie adalah bentuk majemuk yang terdiri atas verba bantu dan partisip lampau (bentuk seperti parti/partie yang dipakai dalam kala majemuk).

Contoh dalam Konteks

Bahasa Prancis Bahasa Indonesia Catatan
Je voulais qu'il vînt. Saya ingin agar dia datang. Keinginan dari sudut pandang masa lampau.
Il fallait qu'elle partît. Ia harus pergi. Keharusan; gaya sastra.
Bien qu'il fût riche, il vivait simplement. Walaupun ia kaya, ia hidup sederhana. Bien que menuntut subjungtif.
Pourvu qu'il réussît ! Semoga saja ia berhasil! Harapan yang diungkapkan dengan gaya sastra.
Elle désirait que nous restassions jusqu'au matin. Ia ingin agar kami tinggal sampai pagi. Bentuk orang pertama jamak.
Le professeur exigea que chacun fît un effort. Guru itu menuntut agar setiap orang berusaha. faire → fît.
Je doutais qu'ils pussent terminer à temps. Saya ragu mereka dapat menyelesaikannya tepat waktu. Keraguan dengan pouvoir.
Il ferma les volets afin que la lumière n'entrât pas. Ia menutup daun jendela agar cahaya tidak masuk. Tujuan negatif dengan afin que.
Quoiqu'elle eût peur, elle ne recula pas. Walaupun takut, ia tidak mundur. avoir → eût.
Le médecin recommanda que vous prissiez du repos. Dokter menyarankan agar Anda beristirahat. prendre → prissiez.
On craignait que la rivière ne débordât. Orang-orang khawatir sungai itu akan meluap. ne di sini bersifat formal, bukan penyangkalan.
Il parlait doucement de peur que l'enfant ne se réveillât. Ia berbicara pelan karena takut anak itu terbangun. Setelah de peur que.
Je ne connaissais personne qui sût réparer cette horloge. Saya tidak mengenal seorang pun yang mampu memperbaiki jam ini. Anteseden tidak pasti memicu subjungtif.
Le juge ordonna que les témoins fussent entendus séparément. Hakim memerintahkan agar para saksi didengar secara terpisah. Bentuk pasif yang sangat resmi.

Kesalahan Umum

1. Memakainya dalam percakapan biasa

  • Kurang alami dalam percakapan: Je voulais que tu vinsses demain.
  • Alami pada masa kini: Je voulais que tu viennes demain.
  • Alasannya: bahasa Prancis modern biasanya memakai subjonctif présent setelah verba utama lampau. Vinsses terdengar sastra, kuno, atau sengaja jenaka.

2. Mengira semua anak kalimat lampau memerlukannya

  • Keliru: Je savais qu'il fût malade.
  • Benar: Je savais qu'il était malade.
  • Alasannya: savoir dalam kalimat afirmatif menyatakan fakta, sehingga dipakai modus indikatif (modus untuk informasi yang disajikan sebagai kenyataan). Masa lampau saja tidak otomatis memicu subjungtif.

3. Melupakan aksen pada orang ketiga tunggal

  • Keliru: Il fallait qu'il partit.
  • Benar: Il fallait qu'il partît.
  • Alasannya: partit tanpa aksen adalah passé simple indikatif. Dalam subjonctif imparfait, orang ketiga tunggal memakai aksen sirkumfleks: partît.

4. Membentuknya dari kala kini

  • Keliru: Il fallait qu'il venisse.
  • Benar: Il fallait qu'il vînt.
  • Alasannya: dasarnya adalah passé simple (il vint), bukan bentuk kini vient. Karena itu, bentuk lengkapnya ialah vinsse, vinsses, vînt, vinssions, vinssiez, vinssent.

5. Memakai subjungtif langsung setelah si

  • Keliru: Si j'eusse le temps, je viendrais.
  • Benar dalam bahasa modern: Si j'avais le temps, je viendrais.
  • Alasannya: anak kalimat syarat biasa setelah si memakai indikatif, bukan subjungtif. Bentuk sastra eusse dapat muncul dalam konstruksi khusus tanpa si, tetapi pola itu bukan alasan untuk menaruh subjungtif setelah si.

6. Mencampur tindakan bersamaan dan tindakan yang sudah selesai

  • Makna bersamaan: Il voulait qu'elle partît. — Ia ingin agar perempuan itu pergi.
  • Makna sudah lebih dahulu: Il regrettait qu'elle fût partie. — Ia menyesalkan bahwa perempuan itu telah pergi.
  • Alasannya: partît adalah bentuk sederhana, sedangkan fût partie menandai tindakan yang sudah selesai sebelum perasaan menyesal itu.

Catatan Pemakaian

Dalam bahasa Prancis masa kini, penggantian subjonctif imparfait dengan subjonctif présent sudah lazim bahkan setelah verba utama lampau. Dengan demikian, Je craignais qu'il ne soit trop tard normal dalam percakapan dan sebagian besar tulisan modern. Bentuk klasiknya, Je craignais qu'il ne fût trop tard, menaikkan ragam menjadi sangat sastra atau khidmat.

Bentuk ini belum benar-benar hilang. Anda masih dapat menemukannya dalam karya sastra, teks sejarah, kutipan, bahasa hukum lama, atau tulisan yang sengaja memberi nuansa zaman lampau. Bentuk orang ketiga—terutama fût, eût, pût, dût, dan vînt—bertahan lebih mudah daripada bentuk seperti nous fussions atau vous vinssiez. Penulis modern juga kadang memakainya untuk ironi, kemegahan yang dibuat-buat, atau efek lucu.

Bahasa Indonesia tidak mengubah bentuk verba berdasarkan modus atau orang: “saya ingin agar dia datang” tetap memakai “datang”. Karena itu, pelajar berbahasa Indonesia sebaiknya tidak mencari satu akhiran Indonesia yang setara. Perhatikan dua lapis informasi dalam bahasa Prancis: kata atau ungkapan pemicu seperti il fallait que memilih subjungtif, lalu ragam klasik memilih bentuk partît karena acuan utamanya berada pada masa lampau.

Partikel ne dalam Je craignais qu'il ne vînt disebut ne explétif: unsur formal yang tidak membuat kalimat menjadi negatif. Artinya “Saya khawatir dia datang”, bukan “Saya khawatir dia tidak datang”. Untuk penyangkalan yang sebenarnya, diperlukan unsur seperti pas: Je craignais qu'il ne vînt pas.

Lebih Lanjut: Pemakaian Tingkat Lanjut

Setelah bentuk kondisional

Dalam gaya klasik, verba utama berbentuk kondisional juga dapat diikuti subjonctif imparfait:

  • Je voudrais qu'il fût plus prudent. — Saya ingin agar ia lebih berhati-hati.
  • Il serait souhaitable que chacun pût répondre. — Sebaiknya setiap orang dapat menjawab.

Dalam pemakaian modern, Je voudrais qu'il soit plus prudent dan Il serait souhaitable que chacun puisse répondre jauh lebih wajar. Jadi, jangan menyimpulkan bahwa voudrais selalu harus diikuti fût; pilihan itu menandai gaya yang sangat tinggi.

Dalam klausa relatif

Subjonctif imparfait dapat muncul dalam klausa relatif (anak kalimat yang menerangkan nomina) jika benda atau orang yang dicari bersifat belum pasti, disangkal, atau dinilai secara subjektif:

  • Il cherchait un conseiller qui sût garder un secret. — Ia mencari penasihat yang mampu menyimpan rahasia.
  • C'était le seul homme qui pût les aider. — Dialah satu-satunya orang yang dapat membantu mereka.

Pemicu subjungtif di sini bukan sekadar kata qui, melainkan ketidakpastian pada contoh pertama dan penilaian “satu-satunya” pada contoh kedua.

Bentuk sastra tanpa si

Dalam bahasa sastra, subjonctif plus-que-parfait kadang dipakai tanpa si untuk menyatakan syarat yang tidak terjadi:

  • Eût-il accepté, tout aurait changé. — Seandainya ia menerima, semuanya akan berubah.

Bentuk eût accepté bukan subjonctif imparfait sederhana, melainkan bentuk majemuk tingkat lanjut. Pola inversi ini penting dikenali karena sekilas eût-il dapat disangka pertanyaan. Dalam bahasa modern, padanannya ialah S'il avait accepté, tout aurait changé.

Perbedaan makna dan perbedaan ragam

Bandingkan tiga kalimat berikut:

Kalimat Nilai utama
Je veux qu'il vienne. Keinginan pada masa kini; bentuk modern biasa.
Je voulais qu'il vienne. Keinginan pada masa lampau; bentuk modern biasa.
Je voulais qu'il vînt. Makna dasar sama dengan kalimat kedua, tetapi bergaya sastra atau sangat resmi.

Jadi, vînt tidak dengan sendirinya berarti “telah datang”. Ia menempatkan tindakan datang sebagai isi keinginan lampau dalam sistem kesesuaian kala klasik. Untuk “saya menyesal bahwa ia telah datang”, diperlukan bentuk majemuk: Je regrettais qu'il fût venu.

Tips Latihan

  1. Latih pengenalan sebelum produksi. Saat membaca, tandai bentuk beraksen seperti fût, eût, pût, vînt, dan partît. Cari pemicu subjungtif di bagian sebelumnya, misalnya il fallait que, bien que, atau afin que.
  2. Buat pasangan klasik–modern. Ubah Il voulait qu'elle restât menjadi Il voulait qu'elle reste. Latihan ini memperjelas bahwa yang berubah terutama urutan kala dan ragam, bukan inti pesan.
  3. Gunakan keluarga akar. Pelajari bentuk bersama passé simple: il fut → qu'il fût → qu'ils fussent; il vint → qu'il vînt → qu'ils vinssent. Cara ini lebih efisien daripada menghafal setiap bentuk sebagai kata terpisah.

Konsep Terkait

  • Prasyarat: Subjonctif présent — menjelaskan pemicu dan fungsi dasar modus subjungtif yang tetap berlaku di sini.
  • Langkah berikutnya: Subjonctif plus-que-parfait — menyatakan tindakan yang sudah selesai sebelum acuan lampau dalam ragam sastra.

Prasyarat

Subjonctif présent dalam bahasa PrancisB1

Konsep yang dibangun di atas ini

Konsep C1 lainnya

Konsep ini dalam bahasa lain

Bandingkan di semua bahasa