C2

Subjonctif plus-que-parfait dalam bahasa Prancis

Subjonctif Plus-que-parfait

Artikel ini merupakan bagian dari pohon tata bahasa Prancis di Settemila Lingue.

Ringkasan

Subjonctif plus-que-parfait adalah bentuk lampau majemuk yang sangat sastrawi: subjonctif imparfait dari avoir atau être + participe passé, misalnya qu'il eût compris dan qu'elle fût partie. Dalam bahasa Prancis masa kini, bentuk ini terutama perlu dikenali saat membaca sastra, sejarah, atau prosa yang sengaja dibuat sangat resmi; dalam percakapan dan tulisan biasa, penutur hampir selalu memakai subjonctif passé seperti qu'il ait compris dan qu'elle soit partie.

Gambaran Umum

Subjonctif adalah modus verba (cara membentuk verba untuk menyatakan sikap seperti keraguan, keinginan, penilaian, atau kemungkinan, bukan sekadar menyatakan fakta). Plus-que-parfait menunjukkan bahwa suatu tindakan sudah selesai sebelum titik waktu lain pada masa lalu. Jika keduanya digabungkan, hasilnya adalah subjonctif plus-que-parfait: tindakan lampau yang dilihat melalui keraguan, penilaian, konsesi, tujuan, atau keadaan yang tidak nyata.

Topik ini berada pada tingkat C2 karena pemakaiannya bukan bagian dari bahasa Prancis sehari-hari. Bentuk seperti eût dit, eussent compris, dan fût arrivée banyak dijumpai dalam novel klasik, memoar, tulisan sejarah, atau gaya yang meniru bahasa lama. Pembelajar tidak perlu memaksakannya ke dalam percakapan. Sasaran terpenting ialah mengenal bentuk tersebut, memahami urutan waktunya, dan dapat mengubahnya ke padanan modern.

Bagi penutur bahasa Indonesia, tantangannya cukup khas. Bahasa Indonesia tidak mengubah verba menurut orang, jumlah, modus, atau jenis kelamin: “telah pergi” tetap sama siapa pun pelakunya. Bahasa Prancis justru menandai orang pada verba bantu, memilih antara avoir dan être, lalu kadang menyesuaikan participe passé. Karena itu, bacalah bentuk ini sebagai satu paket, bukan sebagai dua kata terpisah.

Cara Pembentukan dan Pemakaian

Rumus dasarnya

Strukturnya adalah:

que + subjek + avoir/être dalam subjonctif imparfait + participe passé

Subjek ialah orang atau hal yang melakukan atau mengalami tindakan. Participe passé ialah bentuk verba yang dipakai dalam bentuk lampau majemuk, misalnya parlé, fini, pris, dan parti. Pilihan verba bantu mengikuti aturan yang sama dengan bentuk lampau majemuk lain, terutama passé composé.

  • Kebanyakan verba memakai avoir: qu'il eût compris.
  • Verba gerak tertentu dan semua verba pronominal memakai être: qu'elle fût partie, qu'ils se fussent trompés.

Bentuk verba bantu avoir

Orang Bentuk Contoh lengkap
je que j'eusse que j'eusse compris
tu que tu eusses que tu eusses compris
il / elle / on qu'il / elle / on eût qu'elle eût compris
nous que nous eussions que nous eussions compris
vous que vous eussiez que vous eussiez compris
ils / elles qu'ils / elles eussent qu'ils eussent compris

Tanda aksen pada eût penting. Il eut tanpa aksen adalah passé simple dari avoir, sedangkan il eût adalah subjonctif imparfait yang dipakai untuk membentuk kala ini.

Bentuk verba bantu être

Orang Bentuk Contoh lengkap
je que je fusse que je fusse parti(e)
tu que tu fusses que tu fusses parti(e)
il / elle / on qu'il / elle / on fût qu'elle fût partie
nous que nous fussions que nous fussions parti(e)s
vous que vous fussiez que vous fussiez parti(e)(s)
ils / elles qu'ils / elles fussent qu'elles fussent parties

Akhiran dalam tanda kurung bergantung pada siapa yang dirujuk. Dengan être, participe passé menyesuaikan diri dengan subjek dalam gender gramatikal (pengelompokan kata sebagai maskulin atau feminin) dan jumlah:

  • Il fallait qu'il fût parti.
  • Il fallait qu'elle fût partie.
  • Il fallait qu'ils fussent partis.
  • Il fallait qu'elles fussent parties.

Dengan avoir, participe passé biasanya tidak berubah: elles eussent écrit. Namun, bentuk itu menyesuaikan diri jika objek langsung mendahuluinya. Objek langsung ialah orang atau benda yang langsung dikenai tindakan tanpa preposisi:

  • les lettres qu'elle eût écrites — écrites menyesuaikan dengan les lettres yang muncul sebelumnya.
  • les erreurs qu'ils eussent commises — commises menyesuaikan dengan les erreurs.

Pada verba pronominal seperti se tromper atau se souvenir, verba bantu yang dipakai ialah être: qu'elle se fût trompée, qu'ils se fussent souvenus. Aturan kesesuaiannya dapat menjadi lebih rumit jika ada objek; pada tingkat pengenalan, terapkan aturan yang sama seperti pada bentuk majemuk lain dengan verba pronominal.

Negasi dan pronomina

Kata ne dan pas/jamais/plus mengapit verba bantu, bukan participe passé:

  • qu'il n'eût pas compris
  • qu'elle ne fût jamais revenue
  • qu'ils n'eussent plus hésité

Pronomina objek diletakkan sebelum verba bantu:

  • qu'il l'eût vu — bahwa ia telah melihatnya
  • qu'elle leur eût parlé — bahwa ia telah berbicara kepada mereka
  • qu'ils s'en fussent souvenus — bahwa mereka telah mengingatnya

Hubungan waktu

Dalam sistem sastra klasik, klausa utama pada masa lalu dapat menarik subjungtif di klausa bawahan ke bentuk lampau. Jika tindakan bawahan sudah selesai lebih dahulu, dipakailah subjonctif plus-que-parfait:

  • Il craignait qu'elle eût oublié le rendez-vous.

Rasa takutnya berada pada masa lalu; kemungkinan “lupa” dipandang sudah terjadi sebelum rasa takut itu. Dalam bahasa modern, kalimat yang sama lazim menjadi Il craignait qu'elle ait oublié le rendez-vous. Pergantian ini tidak menghapus hubungan waktunya; hanya bentuk sastrawinya yang diganti.

Contoh dalam Konteks

Bahasa Prancis Terjemahan Indonesia Catatan
Je doute qu'il eût réussi. Saya ragu bahwa ia akan berhasil dalam keadaan itu. Bentuk sangat sastrawi setelah ungkapan keraguan.
Si j'eusse su, je ne serais pas venu. Seandainya saya tahu, saya tidak akan datang. Hipotesis lampau yang tidak menjadi kenyataan.
Quoiqu'il eût travaillé toute la nuit, il restait lucide. Walaupun ia telah bekerja sepanjang malam, ia tetap berpikiran jernih. Konsesi dengan quoique.
Il semblait qu'elle fût partie avant l'aube. Tampaknya ia telah pergi sebelum fajar. Être dipakai dengan partir; partie feminin tunggal.
Le directeur regrettait que nous eussions refusé son offre. Direktur itu menyesalkan bahwa kami telah menolak tawarannya. Penyesalan tentang tindakan yang sudah selesai.
Elle craignait que ses lettres ne fussent perdues. Ia khawatir surat-suratnya telah hilang. Bentuk pasif; perdues sesuai dengan lettres.
C'était le plus beau paysage que j'eusse jamais vu. Itulah pemandangan terindah yang pernah saya lihat. Klausa relatif setelah bentuk superlatif.
Personne ne croyait qu'ils eussent pu traverser la frontière. Tidak seorang pun percaya bahwa mereka telah mampu melintasi perbatasan. Pu adalah participe passé dari pouvoir.
Elle partit sans que personne l'eût reconnue. Ia pergi tanpa ada seorang pun yang mengenalinya. L' merujuk kepada perempuan dan mendahului reconnue.
Avant qu'il eût achevé sa phrase, la porte s'ouvrit. Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, pintu terbuka. Tindakan dalam klausa avant que dilihat dari titik lampau.
Bien qu'elles se fussent préparées, elles furent surprises. Meskipun mereka telah bersiap, mereka tetap terkejut. Verba pronominal dengan subjek feminin jamak.
Eût-il compris le danger, il aurait agi autrement. Seandainya ia memahami bahayanya, ia akan bertindak lain. Inversi sastrawi tanpa si.
N'eût été votre aide, nous aurions échoué. Kalau bukan karena bantuan Anda, kami pasti gagal. Pola tetap yang padat dan sangat resmi.

Kesalahan Umum

1. Memakai bentuk ini dalam percakapan biasa

  • Kurang wajar dalam percakapan: Je suis content que tu fusses venu.
  • Wajar sekarang: Je suis content que tu sois venu.
  • Alasannya: Dalam pemakaian modern, subjonctif passé hampir selalu menggantikan bentuk sastra tersebut. Fusses venu dapat terdengar seperti kutipan novel lama atau gurauan yang sengaja dibuat megah.

2. Memakai infinitif sebagai unsur kedua

Infinitif adalah bentuk dasar verba yang biasa dicantumkan dalam kamus, seperti finir atau partir.

  • Salah: qu'il eût finir
  • Benar: qu'il eût fini
  • Alasannya: Setelah eût/eussent atau fût/fussent, yang diperlukan ialah participe passé, bukan infinitif.

3. Memilih verba bantu yang keliru

  • Salah: qu'elle eût partie
  • Benar: qu'elle fût partie
  • Alasannya: Partir membentuk kala majemuk dengan être. Pilihan verba bantu tidak berubah hanya karena modusnya subjungtif.

4. Melupakan kesesuaian dengan être

  • Salah: qu'elles fussent arrivé
  • Benar: qu'elles fussent arrivées
  • Alasannya: Dengan être, participe passé sesuai dengan subjek feminin jamak: arrivées.

5. Mengabaikan aksen sirkumfleks

  • Salah untuk bentuk ini: qu'il eut compris atau qu'elle fut partie
  • Benar: qu'il eût compris dan qu'elle fût partie
  • Alasannya: Eut dan fut tanpa aksen adalah bentuk passé simple. Aksen pada eût dan fût membedakan bentuk subjungtif orang ketiga tunggal.

6. Mengira setiap bentuk eusse selalu berada dalam klausa bersubjungtif

  • Contoh: J'eusse accepté si vous m'aviez prévenu.
  • Makna: Saya pasti akan menerima jika Anda memberi tahu saya.
  • Alasannya: Bentuk yang sama juga dikenal sebagai conditionnel passé deuxième forme ketika berfungsi sebagai hasil bersyarat. Bentuk katanya identik; fungsi dalam kalimatlah yang menentukan analisisnya.

Catatan Pemakaian

Utamakan pengenalan, bukan produksi

Dalam berita, surat elektronik, rapat, dan percakapan masa kini, bentuk ini sangat jarang. Bahkan tulisan resmi modern lebih memilih subjonctif passé. Karena itu, jangan menganggap eût fait lebih “benar” daripada ait fait. Bentuk pertama menandai gaya sastra atau gaya lama; bentuk kedua adalah pilihan netral modern.

Namun, bentuk tersebut belum sepenuhnya mati. Pembaca masih menjumpainya dalam karya sastra, biografi bergaya tinggi, pidato yang retoris, dan beberapa ungkapan ringkas. Penulis juga dapat memakainya secara ironis untuk menciptakan kesan berlebihan atau kuno.

Pemicu subjungtif tetap sama

Kala ini tidak membuat sebuah klausa menjadi subjungtif dengan sendirinya. Harus tetap ada lingkungan yang memang meminta atau memungkinkan subjungtif, misalnya:

  • keraguan atau penyangkalan: douter que, ne pas croire que;
  • perasaan dan penilaian: regretter que, être surpris que;
  • konsesi: bien que, quoique;
  • batas waktu atau pencegahan: avant que, sans que;
  • klausa relatif dengan ketidakpastian atau superlatif: le seul qui..., le plus beau que....

Jangan mengganti semua plus-que-parfait de l'indicatif dengan bentuk ini. Dalam Je savais qu'il avait compris (“Saya tahu bahwa ia sudah mengerti”), klausa itu disajikan sebagai fakta, sehingga avait compris—bukan eût compris—adalah pilihan yang tepat.

Ne yang tidak selalu berarti “tidak”

Dalam gaya sastra, setelah verba seperti craindre, dapat muncul ne explétif: Elle craignait qu'il n'eût oublié. Di sini ne dapat bersifat tata bahasa dan tidak selalu menyatakan penyangkalan. Maknanya dapat tetap “Ia khawatir bahwa dia telah lupa,” bukan “belum lupa.” Jika benar-benar negatif, konteks biasanya menghadirkan unsur seperti pas, jamais, atau makna negatif yang jelas.

Lebih Lanjut: Pemakaian Tingkat Mahir

Urutan kala dalam prosa klasik

Dalam prosa klasik, pilihan bentuk sering mengikuti concordance des temps (keselarasan kala antara klausa utama dan klausa bawahan). Bandingkan:

Sudut pandang Bentuk sastra klasik Bentuk modern yang lazim
Klausa utama kini, tindakan sudah selesai Je doute qu'il ait compris. Je doute qu'il ait compris.
Klausa utama lampau, tindakan bersamaan atau sesudahnya Je doutais qu'il comprît. Je doutais qu'il comprenne.
Klausa utama lampau, tindakan telah selesai lebih dahulu Je doutais qu'il eût compris. Je doutais qu'il ait compris.

Tabel ini membantu saat “menerjemahkan” prosa lama ke bahasa Prancis modern. Yang bergeser terutama bentuk verbanya, sedangkan pemicu subjungtif dan hubungan waktunya tetap perlu dipertahankan.

Hipotesis lampau dan inversi

Pola Si j'eusse su... adalah bentuk sastra yang terkenal. Padanan netralnya ialah Si j'avais su.... Keduanya memperkenalkan keadaan masa lalu yang tidak terjadi:

  • Sastrawi: Si j'eusse su la vérité, je serais parti.
  • Netral modern: Si j'avais su la vérité, je serais parti.

Bahasa sastra juga dapat menghilangkan si dan membalik urutan subjek-verba: Eût-il su la vérité, il serait parti. Pola seperti ini paling berguna untuk dikenali. Memakainya tanpa konteks gaya yang tepat mudah terdengar dibuat-buat.

Bentuk yang sama, dua nama tata bahasa

J'eusse accepté dan je fusse parti dapat dianalisis sebagai conditionnel passé deuxième forme bila berada dalam klausa utama dan menyatakan hasil yang tidak terjadi. Secara bentuk, keduanya sama persis dengan subjonctif plus-que-parfait. Perbedaannya terletak pada fungsi:

  • Je regrettais qu'il eût refusé: subjungtif dalam klausa yang diperkenalkan oleh que.
  • J'eusse accepté votre offre: kondisional sastra, bermakna “Saya tentu akan menerima tawaran Anda.”

Saat membaca, jangan berhenti pada bentuk eût/eusse. Periksa penghubung, posisi klausa, dan makna seluruh kalimat.

Ungkapan padat yang masih mudah dikenali

Dua konstruksi bertahan sebagai perangkat retoris:

  • N'eût été... / N'eussent été...: “kalau bukan karena...” — N'eussent été ces retards, le projet aurait abouti.
  • Eût-il... / Eussent-ils...: “seandainya ia/mereka...” — Eussent-ils protesté, rien n'aurait changé.

Keduanya mengemas klausa bersyarat tanpa si. Bentuk ini cocok untuk analisis teks dan tulisan sastra, bukan sebagai pola utama percakapan.

Tips Berlatih

  1. Hafalkan dua rangkaian verba bantu, bukan puluhan verba penuh. Ucapkan berurutan eusse, eusses, eût, eussions, eussiez, eussent dan fusse, fusses, fût, fussions, fussiez, fussent, lalu tambahkan beberapa participe passé yang sudah dikenal.
  2. Ubah kalimat sastra menjadi bentuk modern. Misalnya, ubah Il regrettait qu'elle fût partie menjadi Il regrettait qu'elle soit partie. Latihan ini sekaligus menguji makna dan pilihan avoir/être.
  3. Tandai tiga petunjuk saat membaca: pemicu subjungtif, bentuk eût/fût, dan tindakan mana yang terjadi lebih dahulu. Setelah itu, periksa kesesuaian participe passé.

Konsep Terkait

  • Prasyarat: Subjonctif imparfait — menyediakan bentuk eusse dan fusse yang menjadi verba bantu dalam kala majemuk ini.
  • Perlu ditinjau kembali: Subjonctif passé — padanan modern yang biasanya dipakai sebagai ganti subjonctif plus-que-parfait.
  • Perbandingan penting: Plus-que-parfait de l'indicatif — menyatakan tindakan yang telah selesai sebelum titik lampau ketika klausa diperlakukan sebagai fakta, bukan melalui sikap subjungtif.

Prasyarat

Subjonctif imparfait dalam bahasa PrancisC1

Konsep C2 lainnya

Konsep ini dalam bahasa lain

Bandingkan di semua bahasa