Imparfait dalam Bahasa Prancis
L'Imparfait
Artikel ini merupakan bagian dari pohon tata bahasa Prancis di Settemila Lingue.
Ringkasnya
Imparfait dipakai untuk menggambarkan latar, kebiasaan, keadaan, atau tindakan yang sedang berlangsung pada masa lampau: Nous habitions à Lyon berarti “Dulu kami tinggal di Lyon.” Bentuk dasarnya dibuat dari bentuk nous kala kini, buang -ons, lalu tambahkan -ais, -ais, -ait, -ions, -iez, atau -aient. Satu-satunya verba dengan dasar yang benar-benar tidak beraturan ialah être: j'étais, nous étions.
Gambaran Umum
Dalam bahasa Indonesia, waktu suatu peristiwa biasanya diketahui dari konteks atau penanda seperti “dulu”, “ketika itu”, “biasanya”, dan “sedang”. Bentuk verba tidak berubah: “saya tinggal”, “dulu saya tinggal”, dan “ketika itu saya sedang tinggal” tetap memakai kata tinggal. Bahasa Prancis berbeda. Penutur memilih bentuk verba yang menunjukkan cara ia memandang peristiwa lampau tersebut.
Imparfait adalah kala lampau yang terutama menyajikan keadaan sebagai latar atau proses, bukan sebagai kejadian yang dilihat selesai. Karena itu, bentuk ini cocok untuk menceritakan suasana, usia, cuaca, pikiran, kebiasaan, serta sesuatu yang sedang terjadi ketika kejadian lain masuk. Topik ini diperkenalkan pada tingkat A2 dan sangat penting untuk bercerita secara alami.
Imparfait sering muncul bersama passé composé. Perbedaan sederhananya: imparfait membangun latar atau menunjukkan proses, sedangkan passé composé biasanya menggerakkan cerita melalui kejadian yang selesai. Bandingkan Je mangeais (“Saya sedang makan”) dengan J'ai mangé (“Saya sudah makan/Saya makan lalu selesai”). Ini adalah pegangan awal, bukan aturan berdasarkan terjemahan kata demi kata.
Cara Kerjanya
Membentuk dasar verba
Mulailah dari bentuk nous pada kala kini, kemudian hilangkan akhiran -ons. Bagian yang tersisa disebut dasar verba (bagian yang menerima akhiran).
| Infinitif | Bentuk nous kini | Dasar imparfait |
|---|---|---|
| parler | nous parlons | parl- |
| finir | nous finissons | finiss- |
| vendre | nous vendons | vend- |
| faire | nous faisons | fais- |
| avoir | nous avons | av- |
| prendre | nous prenons | pren- |
Infinitif adalah bentuk dasar verba yang tercantum di kamus, misalnya parler “berbicara” dan finir “menyelesaikan”. Cara memakai bentuk nous ini berlaku juga untuk banyak verba yang tidak beraturan pada kala kini. Misalnya, faire menghasilkan fais- dan prendre menghasilkan pren-.
Pengecualian utamanya ialah être. Bentuk nous sommes tidak dipakai sebagai dasar; imparfait memakai dasar khusus ét-.
Menambahkan akhiran
Akhirannya sama untuk semua verba. Subjek adalah orang atau hal yang melakukan tindakan atau sedang dibicarakan.
| Subjek | Akhiran | parler | finir | être |
|---|---|---|---|---|
| je | -ais | je parlais | je finissais | j'étais |
| tu | -ais | tu parlais | tu finissais | tu étais |
| il / elle / on | -ait | il parlait | elle finissait | on était |
| nous | -ions | nous parlions | nous finissions | nous étions |
| vous | -iez | vous parliez | vous finissiez | vous étiez |
| ils / elles | -aient | ils parlaient | elles finissaient | ils étaient |
Dalam pengucapan, parlais, parlait, dan parlaient berakhir dengan bunyi yang sama. Tulisan tetap berbeda karena menunjukkan subjeknya. Akhiran -ions dan -iez terdengar berbeda dan perlu dilatih secara khusus.
Perubahan ejaan yang perlu diperhatikan
Aturan dasar tetap berlaku, tetapi ejaan membantu mempertahankan bunyi verba.
- Verba berakhiran -ger mempertahankan e sebelum akhiran yang dimulai dengan a: je mangeais, tu mangeais, ils mangeaient. Namun bentuknya nous mangions dan vous mangiez, bukan mangeions atau mangeiez.
- Verba berakhiran -cer memakai ç sebelum a: je commençais, elle commençait. Sebelum i, tulis nous commencions, vous commenciez.
- Jika dasar sudah berakhir dengan i, dua huruf i dapat berdampingan: nous étudiions dari étudier dan nous riions dari rire. Ejaan ini benar walaupun tampak tidak biasa.
Empat penggunaan inti
1. Kebiasaan atau tindakan berulang pada masa lampau
Gunakan imparfait untuk hal yang dahulu biasa terjadi, tanpa menyoroti satu kejadian tertentu.
- Chaque dimanche, nous déjeunions chez ma grand-mère. — Setiap Minggu, kami biasa makan siang di rumah nenek saya.
- Quand j'étais étudiant, je prenais toujours le bus. — Ketika masih mahasiswa, saya selalu naik bus.
Penanda yang sering muncul antara lain souvent (sering), toujours (selalu), d'habitude (biasanya), tous les jours (setiap hari), dan chaque été (setiap musim panas).
2. Deskripsi dan keadaan
Imparfait menggambarkan keadaan yang membentuk latar: cuaca, waktu, usia, penampilan, tempat, perasaan, pengetahuan, atau keinginan.
- Il faisait beau et la rue était calme. — Cuacanya cerah dan jalannya sepi.
- J'avais vingt ans et je voulais voyager. — Usia saya dua puluh tahun dan saya ingin bepergian.
Verba seperti être, avoir, sembler, savoir, croire, penser, aimer, vouloir, dan pouvoir sering muncul dalam fungsi ini. Namun, verba tersebut tidak otomatis selalu memakai imparfait; pilihan kala tetap bergantung pada makna yang ingin disampaikan.
3. Tindakan yang sedang berlangsung
Gunakan imparfait untuk menampilkan tindakan dari “bagian tengahnya”, tanpa menunjukkan awal atau akhirnya.
- À huit heures, je travaillais encore. — Pukul delapan, saya masih bekerja.
- Je mangeais quand tu as appelé. — Saya sedang makan ketika kamu menelepon.
Pada contoh kedua, je mangeais adalah proses yang sedang berlangsung. Tu as appelé memakai passé composé karena panggilan itu dipandang sebagai kejadian yang masuk dan selesai.
4. Dua tindakan latar yang berlangsung bersamaan
Jika dua kegiatan sama-sama menjadi proses atau latar, keduanya dapat memakai imparfait.
- Pendant que je cuisinais, les enfants jouaient. — Sementara saya memasak, anak-anak bermain.
Tidak ada kejadian tunggal yang “memotong” kegiatan lain; keduanya berlangsung pada rentang waktu yang sama.
Negasi dan kata ganti objek
Susunan dasar tidak berubah. Pada negasi, ne ... pas mengapit verba yang sudah dikonjugasikan.
- Je ne comprenais pas. — Saya tidak mengerti.
- Nous n'avions jamais le temps. — Kami tidak pernah punya waktu.
Kata ganti objek (kata yang menggantikan pihak atau benda yang dikenai tindakan) diletakkan sebelum verba, seperti pada kala lain.
- Je le voyais souvent. — Saya sering melihatnya.
- Elle ne me parlait plus. — Dia tidak lagi berbicara kepada saya.
Contoh dalam Konteks
| Bahasa Prancis | Arti dalam bahasa Indonesia | Catatan |
|---|---|---|
| Quand j'étais petit, je jouais dehors après l'école. | Ketika masih kecil, saya bermain di luar sepulang sekolah. | Usia dan kebiasaan lampau |
| Il faisait beau, mais il y avait beaucoup de vent. | Cuacanya cerah, tetapi anginnya kencang. | Deskripsi cuaca dan suasana |
| Nous habitions à Lyon près de la gare. | Dulu kami tinggal di Lyon dekat stasiun. | Keadaan yang berlangsung |
| Tous les étés, mes parents louaient une petite maison. | Setiap musim panas, orang tua saya menyewa rumah kecil. | Kebiasaan berulang |
| À cette époque, tu travaillais dans un café. | Pada masa itu, kamu bekerja di sebuah kafe. | Latar waktu lampau |
| Je mangeais quand tu as appelé. | Saya sedang makan ketika kamu menelepon. | Proses yang disela kejadian selesai |
| Pendant que je préparais le dîner, Léa mettait la table. | Sementara saya menyiapkan makan malam, Léa menata meja. | Dua tindakan bersamaan |
| Il était presque minuit et tout le monde dormait. | Saat itu hampir tengah malam dan semua orang sedang tidur. | Waktu dan latar |
| Vous aviez souvent mal à la tête ? | Apakah Anda dulu sering sakit kepala? | Keadaan yang berulang; vous dapat bersifat sopan |
| On ne savait pas quoi répondre. | Kami tidak tahu harus menjawab apa. | Keadaan pengetahuan |
| Les clients attendaient depuis une heure. | Para pelanggan sudah menunggu selama satu jam. | Proses yang masih berlangsung pada saat acuan |
| Je le voyais tous les matins dans le métro. | Saya melihatnya setiap pagi di metro. | Kebiasaan dengan kata ganti objek |
| Elle commençait toujours par ouvrir les fenêtres. | Dia selalu memulai dengan membuka jendela. | Kebiasaan dan ejaan ç |
| Nous étudiions ensemble à la bibliothèque. | Dulu kami belajar bersama di perpustakaan. | Bentuk benar dengan dua huruf i |
| Soudain, la lumière s'est éteinte pendant que nous parlions. | Tiba-tiba, lampu padam ketika kami sedang berbicara. | Kejadian utama dengan latar yang berlangsung |
Kesalahan Umum
1. Membuat dasar dari infinitif
- Salah: Je finiais tôt.
- Benar: Je finissais tôt.
- Alasannya: Dasarnya berasal dari nous finissons, lalu -ons dibuang: finiss- + -ais. Jangan sekadar membuang akhiran infinitif -ir.
2. Memperlakukan être seperti verba biasa
- Salah: Nous sommions fatigués.
- Benar: Nous étions fatigués.
- Alasannya: Être memakai dasar khusus ét-, bukan dasar dari nous sommes.
3. Memakai imparfait untuk rangkaian kejadian selesai
- Kurang tepat: Hier, je me levais, je prenais le bus et j'arrivais au bureau à neuf heures.
- Lebih tepat: Hier, je me suis levé, j'ai pris le bus et je suis arrivé au bureau à neuf heures.
- Alasannya: Di sini pembicara melaporkan urutan kejadian kemarin yang masing-masing selesai. Passé composé lebih wajar. Imparfait cocok bila itu rutinitas: Tous les jours, je me levais, je prenais le bus...
4. Mengira kata “sedang” selalu berarti imparfait
- Kurang tepat: En ce moment, je travaillais.
- Benar: En ce moment, je travaille.
- Alasannya: Bahasa Indonesia memakai “sedang” untuk aspek kegiatan, tetapi waktu tetap harus dilihat. En ce moment berarti sekarang, jadi bahasa Prancis memakai kala kini. Imparfait memerlukan acuan lampau, misalnya À ce moment-là, je travaillais.
5. Salah menulis bentuk nous dan vous dari verba -ger atau -cer
- Salah: Nous mangeions dehors; vous commençiez tôt.
- Benar: Nous mangions dehors; vous commenciez tôt.
- Alasannya: Sebelum i, tambahan e pada manger dan tanda ç pada commencer tidak diperlukan untuk mempertahankan bunyi.
6. Memilih kala hanya berdasarkan lamanya tindakan
- Kurang tepat: “Tindakannya lama, jadi pasti imparfait.”
- Benar: J'ai habité à Paris pendant dix ans. — Saya tinggal di Paris selama sepuluh tahun.
- Alasannya: Rentang sepuluh tahun dapat tetap dipandang sebagai masa yang utuh dan selesai. Imparfait bukan “kala untuk tindakan lama”; yang penting adalah sudut pandang pembicara terhadap batas dan fungsi peristiwa dalam cerita.
Catatan Pemakaian
Imparfait dan passé composé dalam satu cerita
Cara praktis membacanya adalah membayangkan panggung dan kejadian. Imparfait menata panggung—siapa berada di mana, bagaimana cuacanya, apa yang sedang dilakukan—sedangkan passé composé menyampaikan kejadian yang mengubah situasi.
- Il pleuvait et nous attendions le bus quand un taxi s'est arrêté.
- Saat itu hujan dan kami sedang menunggu bus ketika sebuah taksi berhenti.
Il pleuvait dan nous attendions membentuk latar. Un taxi s'est arrêté adalah kejadian baru. Namun, “latar = imparfait” dan “kejadian = passé composé” hanyalah bantuan awal. Sebuah keadaan pun bisa disajikan sebagai perubahan yang selesai: Soudain, j'ai eu peur berarti “Tiba-tiba saya merasa takut.”
Padanan bahasa Indonesia bergantung pada konteks
Imparfait tidak memiliki satu padanan tetap. Terjemahannya bisa memerlukan “dulu”, “biasanya”, “sedang”, “masih”, atau bahkan tanpa penanda tambahan.
- Je lisais beaucoup. — Dulu saya banyak membaca / Saya biasanya banyak membaca.
- Je lisais quand il est entré. — Saya sedang membaca ketika dia masuk.
- Je savais la réponse. — Saya tahu jawabannya.
Karena itu, jangan mencoba menempelkan satu kata Indonesia pada setiap bentuk imparfait. Tanyakan: apakah kalimat ini menyatakan kebiasaan, keadaan, deskripsi, atau proses yang menjadi latar?
Bentuk yang sama dalam gaya lisan dan tulisan
Imparfait lazim dalam percakapan maupun tulisan. Dalam percakapan, subjek on sering menggantikan nous: On habitait à Marseille lebih santai daripada Nous habitions à Marseille. Pilihan ini mengubah tingkat keformalan, bukan fungsi imparfait.
Verba yang hanya lazim pada orang ketiga tetap mengikuti pola yang relevan: il pleuvait dari pleuvoir dan il fallait dari falloir. Bentuk-bentuk ini sangat umum dalam deskripsi dan saran lampau.
Melampaui Dasar: Pemakaian Lanjutan
Bagian ini belum harus dikuasai pada A2. Cukup kenali polanya; nuansa ini akan semakin penting ketika membandingkan kala lampau dan membuat kalimat pengandaian.
Perubahan makna menurut sudut pandang
Beberapa verba keadaan menunjukkan makna yang terasa berbeda ketika beralih dari imparfait ke passé composé.
| Imparfait | Makna umum | Passé composé | Makna umum |
|---|---|---|---|
| Je savais. | Saya tahu. | J'ai su. | Saya mengetahui/mendapat kabar. |
| Je pouvais le faire. | Saya bisa/berada dalam keadaan mampu melakukannya. | J'ai pu le faire. | Saya berhasil atau mendapat kesempatan melakukannya. |
| Je voulais partir. | Saya ingin pergi. | J'ai voulu partir. | Saya memutuskan atau mencoba untuk pergi, bergantung konteks. |
| Je devais appeler. | Saya seharusnya/harus menelepon. | J'ai dû appeler. | Saya terpaksa atau pasti telah menelepon, bergantung konteks. |
Perbedaan ini bukan rumus terjemahan yang mutlak. Konteks dapat mengubah tafsir, tetapi tabel tersebut menunjukkan bagaimana imparfait cenderung mempertahankan keadaan, sedangkan passé composé memberi batas atau hasil.
Kesopanan dan pelembutan
Imparfait dapat membuat permintaan atau maksud terdengar lebih halus karena pembicara seolah memberi jarak dari pernyataannya.
- Je voulais vous demander un renseignement. — Saya hendak meminta informasi kepada Anda.
- Je venais voir si vous aviez un moment. — Saya datang untuk melihat apakah Anda punya waktu sebentar.
Walaupun bentuknya kala lampau, tujuan ujaran dapat berkaitan dengan saat ini. Ini adalah pemakaian pragmatis, yaitu pemakaian bentuk bahasa untuk menghasilkan sikap tertentu dalam percakapan.
Kalimat dengan si
Dalam pola pengandaian, si + imparfait dapat menyatakan situasi yang tidak nyata atau belum pasti pada masa kini, lalu diikuti conditionnel (bentuk untuk akibat yang bergantung pada syarat).
- Si j'avais plus de temps, je voyagerais davantage. — Seandainya saya punya lebih banyak waktu, saya akan lebih sering bepergian.
- Si on allait au cinéma ? — Bagaimana kalau kita pergi ke bioskop?
Pada pola ini, imparfait tidak menceritakan masa lampau. Jangan gunakan conditionnel tepat setelah si: tulis si j'avais, bukan si j'aurais.
Tuturan tidak langsung
Setelah verba pelaporan dalam bentuk lampau, imparfait dapat mewakili kala kini dari ucapan asli.
- Ucapan asli: « Je suis fatiguée. » — “Saya lelah.”
- Laporan: Elle a dit qu'elle était fatiguée. — Dia berkata bahwa dia lelah.
Perubahan ini termasuk urutan kala dalam discours indirect (tuturan yang melaporkan perkataan tanpa mengutipnya persis). Pelajari pola lengkapnya setelah penggunaan inti imparfait sudah mantap.
Kiat Latihan
- Mulai dari bentuk nous. Pilih lima verba sehari, ucapkan bentuk kini nous parlons, nous finissons, nous faisons, lalu turunkan dasar dan enam bentuk imparfait. Cara ini lebih aman daripada menghafal dasar secara terpisah.
- Bangun dua lapis cerita. Tulis tiga kalimat latar dengan imparfait—cuaca, tempat, dan kegiatan yang sedang berlangsung—lalu tambahkan satu kejadian selesai dengan passé composé. Contoh pola: Il pleuvait. J'attendais... Soudain, le bus est arrivé.
- Terjemahkan berdasarkan fungsi, bukan kata. Saat membaca, tandai setiap imparfait sebagai “kebiasaan”, “keadaan/deskripsi”, atau “proses”. Setelah itu baru pilih padanan Indonesia seperti “dulu”, “biasanya”, atau “sedang”.
Konsep Terkait
- Prasyarat: Passé composé — memahami kala lampau ini membantu melihat mengapa suatu kejadian dipilih sebagai selesai atau sebagai latar.
- Langkah berikutnya: Imparfait dan passé composé — memperdalam pilihan antara kedua kala dalam satu narasi.
- Pengembangan lanjutan: Tuturan tidak langsung — menunjukkan bagaimana imparfait muncul ketika ucapan dilaporkan dari sudut waktu lampau.