B2

Nominalisasi dalam Bahasa Māori

Kupu Whakaingoatanga

Artikel ini merupakan bagian dari pohon tata bahasa Maori di Settemila Lingue.

Ringkasan singkat

Nominalisasi adalah pembentukan kata benda dari tindakan atau sifat: haere berarti “pergi”, sedangkan te haerenga berarti “perjalanan” atau “peristiwa pergi”. Bahasa Māori memakai beberapa akhiran, termasuk -nga, -anga, -tanga, dan -manga; bentuk yang tepat perlu dipelajari bersama kata dasarnya. Hasilnya dapat menyebut kegiatan, kejadian, atau gagasan abstrak, lalu dipakai sebagai bagian kalimat seperti kata benda lainnya.

Gambaran umum

Dalam bahasa Indonesia, kita membedakan “datang” dari “kedatangan”, “membaca” dari “pembacaan”, dan “berdaulat” dari “kedaulatan”. Perubahan serupa membantu kita membicarakan sebuah tindakan sebagai suatu hal. Dalam bahasa Māori, tae berarti “sampai” atau “tiba”, tetapi taenga menyebut kedatangan itu sendiri. Kata benda atau nomina adalah kata yang menamai orang, benda, kejadian, atau gagasan; jadi kata benda tidak harus menunjuk sesuatu yang bisa dipegang.

Pada tingkat B2, nominalisasi membantu Anda membaca uraian yang lebih panjang, menjelaskan urutan peristiwa, dan menyoroti sebuah proses. Anda akan menjumpainya dalam percakapan tentang perjalanan, tulisan tentang pendidikan, serta pembahasan masyarakat dan pemerintahan. Nama Māori untuk konsep ini adalah Kupu Whakaingoatanga.

Namun, jangan membayangkan semua kata dibentuk dengan memasang -anga secara otomatis. Yang perlu dipelajari ada dua: bentuk kata yang sudah lazim dan cara memasukkan bentuk itu ke dalam kalimat. Ada pula kata Māori yang dapat dipakai untuk menamai kegiatan tanpa tambahan akhiran. Karena itu, kebiasaan bahasa Indonesia seperti mencari satu imbuhan yang cocok untuk semua kata justru dapat menyesatkan.

Cara pembentukan dan pemakaiannya

1. Dari tindakan menjadi nama tindakan

Verba atau kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau kejadian. Nominalisasi memungkinkan tindakan itu dijadikan topik pembicaraan.

  • I haere au ki Rotorua. — Saya pergi ke Rotorua.
  • He roa te haerenga ki Rotorua. — Perjalanan ke Rotorua panjang.

Kalimat pertama menceritakan apa yang saya lakukan. Kalimat kedua menilai perjalanan tersebut. Te haerenga ki Rotorua merupakan frasa nominal, yaitu kelompok kata yang berfungsi sebagai satu kata benda: “perjalanan ke Rotorua”.

Perhatikan bahwa terjemahan Indonesia yang paling alami tidak selalu memakai kata “proses”. Haerenga biasanya lebih baik diterjemahkan sebagai “perjalanan”, bukan “proses pergi”. Demikian pula, taenga dapat berarti “kedatangan”, bukan sekadar “kegiatan tiba”.

2. Akhirannya tidak selalu sama

Akhiran atau sufiks adalah bagian yang ditambahkan pada akhir kata. Bentuk nominalisasi Māori memiliki beberapa pola. Tabel berikut memisahkan kata dasar dan akhirannya untuk membantu mengingat bentuk, bukan untuk memberikan aturan yang berlaku tanpa pengecualian.

Kata dasar Māori Bentuk nominal Māori Pembentukan Makna yang lazim
haere haerenga Tambahan -nga Perjalanan; peristiwa pergi
tae taenga Tambahan -nga Kedatangan; tibanya seseorang
noho nohoanga Tambahan -anga Tempat duduk atau tempat tinggal; makna bergantung konteks
kōrero kōrerotanga Tambahan -tanga Pembicaraan; kegiatan berbicara
pānui pānuitanga Tambahan -tanga Pembacaan; pengumuman, menurut konteks
inu inumanga Tambahan -manga Kegiatan atau peristiwa minum
ako akoranga Tambahan -ranga Pelajaran; kegiatan pembelajaran
rangatira rangatiratanga Tambahan -tanga Kepemimpinan; kewenangan; kedaulatan

Bentuk haerenga bukan hasil menempelkan -anga langsung pada haere. Jika kata dasarnya dipertahankan, pembagiannya adalah haere + nga. Penyebutan pola te … anga berguna sebagai pengingat umum, tetapi terlalu sederhana jika dianggap rumus ejaan.

Demikian juga, ako menghasilkan akoranga, bukan bentuk yang dibuat dengan sekadar memilih akhiran terpendek. Cara belajar yang aman adalah mencatat pasangan ako — akoranga seperti Anda mencatat “ajar — pelajaran” dalam bahasa Indonesia.

3. Tambahkan penentu yang sesuai

Penentu adalah kata kecil yang memberi tahu apakah kita membicarakan sesuatu yang tertentu, sesuatu yang belum tertentu, atau sesuatu yang berhubungan dengan seseorang. Te sering mendahului kata benda tunggal tertentu, sedangkan ngā dipakai untuk bentuk jamak tertentu. He dapat memperkenalkan sesuatu yang belum tertentu.

Frasa Māori Arti Indonesia Keterangan
te haerenga Perjalanan itu Satu perjalanan tertentu
ngā haerenga Perjalanan-perjalanan itu Beberapa perjalanan
he haerenga Sebuah perjalanan Memperkenalkan perjalanan
tōku haerenga Perjalanan saya Hubungan dengan saya dinyatakan oleh tōku
te haerenga ki Rotorua Perjalanan ke Rotorua Tujuan ditambahkan sesudah kata benda

Jangan menganggap te bagian tetap dari kata haerenga. Bentuk katanya tetap haerenga meskipun penentunya berubah. Anda juga tidak perlu menerjemahkan te dengan “itu” dalam setiap kalimat. Dalam bahasa Indonesia, “perjalanan ke Rotorua” sering sudah jelas tanpa kata tambahan.

Dalam pemakaian tunggal yang biasa, bentuk posesif seperti tōku menggantikan te: tōku haerenga, bukan te tōku haerenga. Posesif berarti bentuk yang menyatakan kepemilikan atau hubungan, seperti “saya” dalam “perjalanan saya”. Hubungan ini tidak selalu berarti memiliki benda secara harfiah.

4. Keterangan tetap dapat mengikuti bentuk nominal

Nominalisasi tidak menghapus semua informasi tentang tindakannya. Kita masih bisa menyebut arah, tempat, atau hal yang dibicarakan.

  • te taenga mai — kedatangan ke sini
  • te haerenga ki Rotorua — perjalanan ke Rotorua
  • te kōrerotanga mō te reo Māori — pembicaraan tentang bahasa Māori

Mai menunjukkan gerak menuju pembicara atau titik acuan. Karena itu, pada taenga mai, kedatangan masih dipandang dari arah tertentu. Ki Rotorua menyatakan tujuan, sedangkan mō te reo Māori menjelaskan topik pembicaraan.

Jika ingin menyatakan pelaku, yakni orang yang melakukan tindakan, bentuk posesif sering berguna:

  • tana pānuitanga i te pukapuka — pembacaannya atas buku itu; kegiatan dia membaca buku itu

Dalam frasa tersebut, tana menghubungkan kegiatan membaca dengan orang yang melakukannya. I te pukapuka menyatakan objek, yaitu hal yang menjadi sasaran tindakan membaca. Jangan menafsirkan i di sini sebagai penanda masa lampau: letak dan fungsi kata kecil itu berbeda.

5. Maknanya dapat bergeser dari proses ke hasil

Tidak semua bentuk nominal berarti “tindakan melakukan X” secara sempit. Akoranga dapat berarti sebuah pelajaran; nohoanga dapat menyebut tempat duduk atau tempat tinggal. Bentuk seperti ini sudah menjadi kosakata dengan makna yang perlu dipelajari.

Hal serupa terjadi dalam bahasa Indonesia: “bangunan” bukan hanya kegiatan membangun, tetapi juga hasilnya. Oleh karena itu, menebak makna dari kata dasar berguna untuk langkah awal, tetapi konteks dan kamus tetap diperlukan.

Rangatiratanga juga bukan hanya nama tindakan dari sebuah kata kerja. Bentuk ini berhubungan dengan rangatira, “pemimpin”, dan dapat menyebut kepemimpinan, kewenangan, atau kedaulatan. Nominalisasi mencakup pembentukan gagasan abstrak, bukan hanya pengubahan kata kerja menjadi nama kegiatan.

Contoh dalam konteks

Tabel ini mencakup frasa pendek dan kalimat lengkap. Frasa pendek tetap berguna sebagai judul, bagian kalimat, atau jawaban dalam konteks tertentu; jangan menganggap semuanya kalimat yang menyatakan sebuah peristiwa secara lengkap.

Bahasa Māori Bahasa Indonesia Keterangan
Te haerenga ki Rotorua. Perjalanan ke Rotorua. Frasa yang menamai perjalanan beserta tujuannya
Ko te kōrerotanga te mea nui. Pembicaraan itulah yang penting. Kegiatan berbicara dijadikan hal utama
I muri i te taenga mai. Setelah kedatangan. Frasa waktu; siapa yang datang ditentukan konteks
Ko te rangatiratanga o te iwi. Kedaulatan masyarakat itu. Ungkapan bertopik; bukan pernyataan lengkap yang berdiri sendiri
He roa te haerenga ki Rotorua. Perjalanan ke Rotorua panjang. Perjalanan dinilai panjang
I pai tō mātou haerenga. Perjalanan kami berjalan baik. Mātou berarti kami, tidak termasuk lawan bicara
I muri i tōna taenga mai, ka kai mātou. Setelah dia tiba, kami makan. Kedatangan menjadi patokan waktu
I mua i te haerenga, ka whakarite mātou i ngā pēke. Sebelum perjalanan, kami menyiapkan tas-tas. Perjalanan dipakai untuk menyatakan urutan kegiatan
He pai tēnei akoranga. Pelajaran ini bagus. Bentuk nominal menyebut satu pelajaran
Kei te pānui ia i te pukapuka. Dia sedang membaca buku itu. Kalimat tindakan sebagai pembanding
He tere tana pānuitanga i te pukapuka. Dia membaca buku itu dengan cepat. Secara harfiah, kegiatan membacanya cepat
He nui ngā haerenga i tēnei tau. Ada banyak perjalanan tahun ini. Bentuk jamak dengan ngā

Terjemahan baris He tere tana pānuitanga i te pukapuka sengaja memakai kata kerja dalam bahasa Indonesia. Terjemahan yang wajar tidak harus meniru bentuk kata sumber. Yang penting, Anda mengenali bahwa kalimat Māori menilai kegiatan membaca, lalu menghubungkannya dengan pelaku dan buku yang dibaca.

Kesalahan yang sering terjadi

1. Menambahkan akhiran yang sama pada semua kata

  • Keliru untuk bentuk “perjalanan”: te haereanga ki Rotorua
  • Benar: te haerenga ki Rotorua — perjalanan ke Rotorua
  • Penjelasan: Bentuk lazimnya adalah haerenga. Rumus umum te … anga bukan izin untuk menambahkan huruf yang sama sesudah setiap kata dasar.

2. Mengira te wajib dipertahankan sesudah posesif

  • Keliru: te tōku haerenga
  • Benar: tōku haerenga — perjalanan saya
  • Penjelasan: Dalam frasa tunggal biasa ini, tōku sudah berfungsi sebagai penentu. Jangan menyalin urutan Indonesia “perjalanan saya” dengan memasang setiap unsur secara terpisah.

3. Memakai partikel waktu seolah-olah bentuk nominal masih kata kerja

  • Keliru untuk “Saya pergi ke Rotorua”: I haerenga au ki Rotorua.
  • Benar: I haere au ki Rotorua. — Saya pergi ke Rotorua.
  • Alternatif nominal: He roa taku haerenga ki Rotorua. — Perjalanan saya ke Rotorua panjang.
  • Penjelasan: Haere dipakai untuk menyatakan tindakannya; haerenga menamai perjalanan. Jangan langsung mengganti satu dengan yang lain tanpa mengubah susunan kalimat.

4. Memakai e ana pada kata benda hasil nominalisasi

  • Keliru untuk “Dia sedang membaca buku itu”: E pānuitanga ana ia i te pukapuka.
  • Benar: E pānui ana ia i te pukapuka. — Dia sedang membaca buku itu.
  • Penjelasan: Pola e … ana menyatakan kegiatan yang berlangsung dengan kata kerja pānui. Bentuk pānuitanga membutuhkan susunan nominal, misalnya tana pānuitanga i te pukapuka.

5. Menyamakan jumlah gramatikal dengan makna akhiran

  • Keliru untuk “perjalanan-perjalanan itu”: te haerenga
  • Benar untuk maksud jamak tertentu: ngā haerenga — perjalanan-perjalanan itu
  • Penjelasan: -nga pada haerenga tidak menandai jamak. Makna satu atau beberapa perjalanan dibantu oleh penentu. Te haerenga sendiri benar, tetapi menyatakan maksud yang berbeda dari bentuk jamak yang dituju.

Catatan pemakaian

Nominalisasi tidak selalu terdengar resmi

Kata seperti haerenga dan akoranga lazim dipakai untuk membicarakan perjalanan dan pelajaran. Jadi, nominalisasi bukan ciri bahasa administrasi saja. Namun, deretan kata benda abstrak dapat membuat sebuah uraian terasa lebih padat dan resmi. Untuk bercerita tentang kegiatan sehari-hari, kalimat dengan kata kerja sering lebih langsung.

Bandingkan I haere au ki Rotorua, “Saya pergi ke Rotorua”, dengan He roa te haerenga ki Rotorua, “Perjalanan ke Rotorua panjang”. Pilihannya bergantung pada informasi yang ingin disampaikan, bukan pada anggapan bahwa bentuk nominal selalu lebih baik.

Tidak semua kegiatan perlu diberi akhiran

Bahasa Māori juga menggunakan kata seperti ako dan mahi untuk menamai kegiatan dalam susunan tertentu. Misalnya, He mea nui te ako berarti “Belajar itu penting”. Anda tidak harus menggantinya dengan bentuk berakhiran hanya karena kata “belajar” menjadi topik.

Perbedaan ini penting bagi pembaca Indonesia. Kita pun dapat mengatakan “Belajar itu penting” tanpa mengubahnya menjadi “Pembelajaran itu penting”. Akan tetapi, pilihan bentuk Māori tetap mengikuti pemakaian Māori; jangan menganggap pasangan te ako dan te akoranga selalu dapat saling menggantikan. Akoranga juga bisa menyebut pelajaran tertentu.

Istilah sosial memerlukan konteks

Dalam te rangatiratanga o te iwi, o te iwi menjelaskan hubungan dengan iwi, yang dapat berarti masyarakat, bangsa, atau kelompok suku sesuai konteks. Terjemahan “kedaulatan masyarakat itu” menyoroti satu makna yang relevan, tetapi tidak mencakup seluruh penggunaan rangatiratanga.

Dalam tulisan budaya, politik, dan sejarah Māori, istilah ini membawa muatan khusus. Jangan menyimpulkan seluruh maknanya hanya dari akhiran -tanga, dan jangan memperlakukannya sebagai padanan Indonesia yang selalu satu banding satu.

Pemakaian lanjutan

Nominalisasi sebagai penghubung waktu

Salah satu pemakaian yang paling berguna adalah menyebut suatu kejadian sebagai patokan bagi kejadian berikutnya:

  • I muri i tōna taenga mai, ka kai mātou. — Setelah dia tiba, kami makan.
  • I taku taenga mai, ka tīmata te hui. — Ketika saya tiba, pertemuan dimulai.

Pada contoh kedua, bagian i taku taenga mai secara harfiah memuat “pada kedatangan saya”, tetapi “ketika saya tiba” lebih alami dalam bahasa Indonesia. Anda perlu mengenali struktur nominal meskipun terjemahannya berupa klausa, yaitu kelompok kata yang menyatakan sebuah keadaan atau peristiwa.

Akhiran nominalisasi tidak menunjukkan masa lampau dengan sendirinya. Kedatangan dapat dibicarakan sebagai kejadian yang sudah terjadi atau sebagai patokan untuk rencana mendatang. Penafsiran waktunya berasal dari kalimat dan konteks yang lebih luas.

Menyatakan pelaku dengan pola posesif

Bentuk posesif Māori terbagi dalam kelompok a dan o, yang menyatakan jenis hubungan berbeda. Pembagiannya bukan sekadar “milik benda” lawan “milik orang”. Dalam nominalisasi, hubungan seseorang dengan tindakannya ikut menentukan pilihan.

Tana pānuitanga i te pukapuka memakai kelompok a untuk kegiatan membaca yang dilakukan orang tersebut. Sebaliknya, tōna taenga mai memakai kelompok o untuk kedatangannya. Untuk belajar, hafalkan dulu frasa yang lazim ini sebelum mencoba menentukan semua pilihan hanya dari terjemahan “-nya”.

Penjelasan “kelompok a untuk hal yang dikendalikan, kelompok o untuk hal yang tidak dikendalikan” dapat membantu dalam sebagian kasus, tetapi bukan aturan tunggal tanpa pengecualian. Kedatangan yang direncanakan pun lazim memakai tōna taenga mai. Jenis hubungan dan pola yang sudah mapan sama pentingnya dengan gagasan tentang kendali.

Hubungan dengan bentuk pasif

Kalimat pasif menyoroti pihak yang mengalami tindakan, seperti “buku dibaca”, bukan “dia membaca buku”. Beberapa akhiran nominalisasi memiliki hubungan bentuk dengan akhiran pasif. Misalnya, pānui memiliki bentuk pasif pānuitia dan bentuk nominal pānuitanga; inu memiliki inumia dan inumanga.

Hubungan ini berguna sebagai bantuan mengingat. Namun, jangan mengira bahwa bentuk nominalnya berarti pasif secara otomatis: pānuitanga menamai pembacaan, bukan langsung berarti “dibaca”. Pelaku dan hal yang dibaca harus dipahami dari unsur lain atau konteks. Hubungan antara akhiran pasif dan nominal juga bukan alat yang aman untuk menciptakan bentuk baru tanpa memeriksa pemakaian.

Kejadian tidak sama dengan benda yang terlibat

Nominalisasi biasanya menamai tindakan atau sesuatu yang berhubungan dengannya, bukan otomatis orang yang bertindak. Pānuitanga bukan “pembaca”, dan haerenga bukan “orang yang bepergian”. Untuk menyebut orang, Anda memerlukan bentuk lain, misalnya te tangata e pānui ana, “orang yang sedang membaca”.

Di sinilah pemahaman klausa relatif berguna. Klausa relatif adalah bagian kalimat yang menerangkan orang atau benda, seperti “yang sedang membaca”. Nominalisasi mengubah pusat pembicaraan menjadi kegiatan; klausa relatif membantu mengidentifikasi peserta kegiatan. Keduanya dapat muncul dalam pembahasan yang sama, tetapi tidak menjalankan fungsi yang sama.

Saran latihan

  1. Buat catatan berpasangan, bukan daftar akhiran saja. Catat haere — haerenga, tae — taenga, kōrero — kōrerotanga, dan ako — akoranga. Tambahkan satu frasa Indonesia yang paling alami untuk setiap bentuk. Pisahkan makna kegiatan dari makna yang sudah menjadi kosakata, seperti “pelajaran”.
  2. Ubah fokus, bukan sekadar akhir kata. Mulailah dengan I haere au ki Rotorua, “Saya pergi ke Rotorua”. Lalu buat kalimat tentang perjalanannya: He roa taku haerenga ki Rotorua, “Perjalanan saya ke Rotorua panjang”. Tanyakan apa yang kini dinilai atau dibicarakan, siapa yang terlibat, dan keterangan mana yang tetap diperlukan.
  3. Latih urutan peristiwa dengan dua pola. Gunakan i mua i te haerenga, “sebelum perjalanan”, dan i muri i te taenga mai, “setelah kedatangan”. Kemudian tambahkan peserta: i muri i tōna taenga mai, “setelah dia tiba”. Saat membaca teks Māori, tandai bentuk nominal dan coba parafrasekan artinya dengan kata kerja dalam bahasa Indonesia.

Konsep terkait

  • Bekal sebelumnya: Klausa relatif — membantu membedakan nama kegiatan dari keterangan tentang orang atau benda yang terlibat.
  • Langkah berikutnya: Pola awalan dan akhiran — memperluas pemahaman pembentukan kata, termasuk hubungan antara bentuk dasar, akhiran, dan perubahan makna.

Prasyarat

Klausa Relatif dalam Bahasa MaoriB1

Konsep yang dibangun di atas ini

Konsep B2 lainnya

Konsep ini dalam bahasa lain

Bandingkan di semua bahasa