C2

Perangkat Retoris dalam Bahasa Inggris

Rhetorical Devices

Artikel ini merupakan bagian dari pohon tata bahasa Inggris di Settemila Lingue.

Ringkasan Singkat

Perangkat retoris adalah cara menyusun ujaran agar pesan terasa lebih kuat, halus, lucu, atau mudah diingat. Dalam bahasa Inggris, pertanyaan seperti Who doesn't love a challenge? tidak selalu meminta jawaban: penutur mengajak pendengar menerima gagasan bahwa tantangan itu menarik. Untuk memahami perangkat ini, perhatikan bukan hanya arti kata, tetapi juga situasi, nada suara, dan maksud penutur.

Gambaran Umum

Pernah mendengar seseorang berkata “Sudah seribu kali saya bilang” padahal baru mengulang beberapa kali? Atau “Lumayan juga” untuk memuji hasil yang sebenarnya sangat bagus? Bahasa Indonesia sudah memberi bekal untuk mengenali cara berbahasa semacam ini. Dalam bahasa Inggris pun, orang dapat melebih-lebihkan, mengecilkan sesuatu, atau memakai bentuk pertanyaan untuk menyampaikan pendapat. Yang perlu dipelajari adalah pilihan bentuk bahasa Inggris dan cara membaca kekuatan pesannya.

Pada tingkat C2, perhatian tidak lagi hanya tertuju pada kalimat yang benar, tetapi pada efek kalimat terhadap pembaca atau pendengar. Retorika berarti penggunaan bahasa untuk menyampaikan gagasan secara efektif, termasuk untuk meyakinkan orang. Perangkat retoris muncul dalam percakapan, pidato, iklan, esai, dan karya sastra. Perangkat ini tidak otomatis membuat kalimat menjadi lebih baik: kadang bentuk langsung justru lebih tepat.

Artikel ini membahas tujuh perangkat utama: pertanyaan retoris, litotes, hiperbola, pengecilan makna, paralelisme, kiasmus, dan antitesis. Sebagian bekerja melalui makna tersirat, sebagian melalui susunan kalimat. Tujuannya bukan menghafal istilah sebanyak mungkin, melainkan mengenali apa yang ingin dilakukan penutur dan memilih bentuk yang sesuai ketika Anda berbicara atau menulis.

Cara Kerjanya

1. Pertanyaan retoris: bertanya tanpa sungguh-sungguh meminta informasi

Pertanyaan retoris berbentuk pertanyaan, tetapi terutama digunakan untuk menegaskan pendapat, mengajak orang sepakat, atau menunjukkan perasaan. Bentuknya tetap mengikuti aturan pertanyaan bahasa Inggris.

  • Who doesn't love a challenge? — “Siapa yang tidak suka tantangan?” Maksud yang diharapkan: hampir semua orang menyukai tantangan.
  • How could I forget? — “Mana mungkin saya lupa?” Maksudnya: tentu saya ingat.
  • Is that really fair? — “Apa itu benar-benar adil?” Dalam perdebatan, penutur mungkin sedang menyatakan bahwa hal itu tidak adil.

Namun, kalimat yang sama bisa menjadi pertanyaan biasa. Jika seseorang benar-benar ingin tahu siapa yang tidak suka tantangan, contoh pertama dapat meminta jawaban nyata. Bentuk kalimat saja tidak cukup untuk menentukan fungsi retorisnya.

Pertanyaan negatif, yaitu pertanyaan yang memuat penyangkalan seperti not atau doesn't, sering mengarahkan pendengar pada jawaban yang dianggap sudah jelas. Akan tetapi, pertanyaan retoris tidak harus negatif. What are we waiting for? — “Apa lagi yang kita tunggu?” — dapat menjadi ajakan untuk segera bertindak.

Bagi penutur bahasa Indonesia, “Memangnya siapa yang mau?” terasa akrab. Jangan membawa susunan Indonesianya mentah-mentah ke bahasa Inggris. Dalam Who doesn't love a challenge?, who menjadi subjek (orang atau hal yang menjadi pokok kalimat dan melakukan tindakan). Karena itu, bentuk ini bukan Who does not loves a challenge?: setelah does, gunakan love, bukan loves.

2. Litotes: menyampaikan penilaian dengan menyangkal kebalikannya

Dalam pembahasan ini, litotes berarti mengungkapkan suatu penilaian dengan menyangkal sifat yang berlawanan. Contoh yang paling mudah dikenali adalah not bad — “tidak buruk”, yang dapat bermakna “cukup bagus” atau bahkan “bagus sekali” jika nadanya mendukung.

  • The food was not bad. — “Makanannya lumayan.”
  • She's no fool. — “Dia bukan orang bodoh.” Maksudnya: dia cerdik atau tidak mudah ditipu.
  • That is no small achievement. — “Itu bukan pencapaian kecil.” Maksudnya: pencapaian itu besar dan layak dihargai.

Dalam pelajaran bahasa Indonesia, istilah litotes juga sering dikaitkan dengan merendahkan diri, misalnya menyebut rumah sendiri sebagai “gubuk”. Untuk membaca bahasa Inggris, jangan membatasi litotes pada kerendahan hati. She's no fool tidak merendahkan siapa pun; penutur justru menegaskan kecerdikan seseorang secara tidak langsung.

Contoh It wasn't the worst idea berarti “Itu bukan ide yang paling buruk”. Kalimat ini dapat menjadi pujian yang tertahan, pengakuan bahwa idenya masuk akal, atau pembelaan yang kurang antusias. Jangan otomatis mengartikannya sebagai “Itu ide yang bagus sekali”. Menyangkal penilaian paling buruk masih menyisakan banyak kemungkinan di antara buruk dan sangat bagus.

3. Hiperbola: membesar-besarkan untuk memberi efek

Hiperbola adalah pembesaran yang sengaja tidak dimaksudkan sebagai ukuran harfiah.

  • I've told you a million times. — “Sudah sejuta kali saya bilang.”
  • This bag weighs a ton. — “Tas ini berat sekali.”
  • I'm starving. — “Saya lapar sekali.” Dalam percakapan biasa, bukan laporan bahwa penutur mengalami kelaparan berat.

Hiperbola memberi intensitas, humor, atau warna emosional. Pendengar biasanya tahu bahwa jumlah atau ukuran itu berlebihan. Angka besar, kata yang ekstrem, dan ketidakmungkinan yang jelas membantu menandai efek tersebut.

Tetap bedakan ungkapan berlebihan dengan informasi faktual. Dalam laporan medis, starving bisa berkaitan dengan kondisi serius. Dalam petunjuk pengangkutan, berat “satu ton” mungkin benar-benar ukuran. Konteks menentukan apakah kalimat perlu dibaca secara harfiah.

4. Pengecilan makna: mengatakan lebih sedikit daripada kenyataannya

Pengecilan makna adalah cara menggambarkan sesuatu seolah-olah lebih ringan atau lebih kecil daripada keadaan sebenarnya. Litotes dapat menjadi salah satu caranya, tetapi tidak semua pengecilan makna memakai penyangkalan.

  • We had a bit of trouble. — “Kami mengalami sedikit masalah.” Padahal, misalnya, kendaraan rusak dan perjalanan tertunda berjam-jam.
  • The repair was a little expensive. — “Biaya perbaikannya agak mahal.” Padahal biayanya hampir menghabiskan tabungan.

Ungkapan a bit, a little, dan slightly berarti “sedikit” atau “agak”. Kata-kata itu bukan perangkat retoris dengan sendirinya. Jika masalahnya memang kecil, a bit of trouble adalah deskripsi biasa. Efek retoris muncul ketika ada jarak antara kata yang ringan dan kenyataan yang jauh lebih berat.

Dalam bahasa Indonesia, “Cuma lecet sedikit” ketika kerusakannya besar dapat menimbulkan humor serupa. Namun, pengecilan makna juga bisa menyembunyikan masalah. Dalam percakapan penting, pastikan pendengar mengetahui tingkat keseriusan yang sebenarnya.

5. Paralelisme: membuat unsur yang setara memiliki bentuk yang sejajar

Paralelisme adalah pengulangan pola tata bahasa pada unsur-unsur yang setara. Hasilnya terasa seimbang dan mudah diikuti.

  • We need to listen, to learn, and to act. — “Kita perlu mendengarkan, belajar, dan bertindak.”
  • The policy is simple, practical, and fair. — “Kebijakan itu sederhana, praktis, dan adil.”

Dalam contoh pertama, tiga tindakan memakai pola to + kata kerja. Bentuk ini disebut infinitif, yaitu bentuk dasar kata kerja yang di sini didahului to. Dalam contoh kedua, tiga penilaian memakai kata sifat, yaitu kata yang menerangkan sifat sesuatu.

Paralelisme tidak mengharuskan semua kata diulang. We need to listen, learn, and act juga sejajar; satu to berlaku untuk ketiga tindakan. Yang penting adalah hubungan bentuk dan fungsi, bukan jumlah kata yang sama persis.

Ketika bahasa Indonesia berbunyi “membaca, menulis, dan belajar”, bentuknya terlihat seragam. Dalam bahasa Inggris, pilihan bentuk perlu lebih diperhatikan: reading, writing, and learning sejajar, sedangkan reading, to write, and learning tidak sejajar untuk daftar kegiatan yang sama.

6. Kiasmus: membalik pola untuk menghasilkan keseimbangan silang

Kiasmus adalah susunan silang: pola bagian pertama kembali pada bagian kedua dengan urutan terbalik, seperti A–B lalu B–A. Pembalikan ini dapat menonjolkan hubungan atau pertentangan.

  • We shape our habits; then our habits shape us. — “Kita membentuk kebiasaan kita; lalu kebiasaan kita membentuk diri kita.”

Bagian pertama menempatkan “kita” sebagai pembentuk dan “kebiasaan” sebagai yang dibentuk; bagian kedua membalik keduanya. Tanda titik koma memisahkan dua bagian yang masing-masing dapat berdiri sebagai kalimat, tetapi tetap erat hubungannya.

Contoh terkenal dari pidato John F. Kennedy adalah Ask not what your country can do for you—ask what you can do for your country. — “Jangan tanyakan apa yang dapat negara Anda lakukan untuk Anda; tanyakan apa yang dapat Anda lakukan untuk negara Anda.” Hubungan “negara untuk Anda” dibalik menjadi “Anda untuk negara”.

Jangan menganggap setiap pengulangan sebagai kiasmus. Harus ada pembalikan pola yang dapat ditunjukkan. Selain itu, bentuk ask not terdengar khidmat dan bergaya pidato; untuk larangan sehari-hari, bentuk lazimnya adalah don't ask.

7. Antitesis: mempertemukan dua gagasan yang berlawanan

Antitesis menempatkan dua gagasan yang berlawanan berdampingan agar perbedaannya menonjol. Sering kali, kedua bagian memakai paralelisme.

  • We need action, not excuses. — “Kita membutuhkan tindakan, bukan alasan.”
  • It was the best of times, it was the worst of times. — “Itulah masa yang paling baik, itulah masa yang paling buruk.”

Contoh kedua berasal dari pembukaan novel A Tale of Two Cities karya Charles Dickens. Pola yang sama diulang, tetapi best dan worst saling berlawanan. Kalimat itu menunjukkan dua sisi yang bertentangan dari suatu zaman, bukan kesalahan yang perlu diperbaiki menjadi hanya satu penilaian.

Perbedaannya penting: paralelisme menyangkut bentuk; antitesis menyangkut pertentangan makna; kiasmus menyangkut pembalikan susunan. Satu kalimat dapat memakai lebih dari satu perangkat.

Contoh dalam Konteks

Terjemahan berikut mengutamakan maksud yang wajar dalam bahasa Indonesia. Untuk ungkapan tidak langsung, kolom catatan menjelaskan situasi yang membuat pembacaan retorisnya masuk akal.

Contoh bahasa Inggris Makna dalam bahasa Indonesia Konteks dan efek
Who doesn't love a challenge? Siapa yang tidak suka tantangan? Pembicara menyemangati tim dan mengharapkan persetujuan.
How could I forget your birthday? Mana mungkin saya lupa ulang tahunmu? Meyakinkan seseorang bahwa tanggal itu diingat.
What are we waiting for? Let's get started. Apa lagi yang kita tunggu? Ayo mulai. Pertanyaan menjadi dorongan untuk bertindak.
It wasn't the worst idea. Idenya tidak buruk-buruk amat. Pengakuan yang tertahan, bukan pujian tinggi.
Your first presentation was not bad at all. Presentasi pertamamu cukup bagus, lho. Penyangkalan sifat buruk dipakai sebagai pujian.
Finishing the project on time was no small achievement. Menyelesaikan proyek tepat waktu adalah pencapaian besar. Menekankan besarnya pencapaian dengan menyangkal bahwa hal itu kecil.
I've told you a million times to save your work. Sudah sejuta kali saya bilang agar kamu menyimpan pekerjaanmu. Jumlah berlebihan menunjukkan kejengkelan.
This suitcase weighs a ton. Koper ini berat sekali. Keluhan santai, bukan pengukuran berat.
We had a bit of trouble: the car broke down twice. Kami agak kerepotan: mobilnya mogok dua kali. Kata yang ringan mengecilkan pengalaman yang merepotkan.
We need to listen, to learn, and to act. Kita perlu mendengarkan, belajar, dan bertindak. Tiga tindakan sejajar membentuk irama ajakan.
The plan is clear, realistic, and affordable. Rencana itu jelas, realistis, dan terjangkau. Tiga sifat sejajar membuat penilaian mudah diikuti.
We shape our habits; then our habits shape us. Kita membentuk kebiasaan kita; lalu kebiasaan kita membentuk diri kita. Pembalikan menunjukkan pengaruh dua arah.
We need action, not excuses. Kita membutuhkan tindakan, bukan alasan. Pertentangan menegaskan prioritas.
It was the best of times, it was the worst of times. Itulah masa yang paling baik, itulah masa yang paling buruk. Kutipan Dickens memadukan pola sejajar dan makna yang berlawanan.

Kesalahan Umum

1. Menganggap pujian tidak langsung selalu berarti pujian tinggi

  • Penafsiran keliru: It wasn't the worst idea = “Itu ide terbaik.”
  • Penafsiran lebih tepat: “Itu bukan ide terburuk”, atau “Idenya masih masuk akal”, sesuai konteks.
  • Mengapa: Menyangkal penilaian paling buruk tidak sama dengan memberikan penilaian paling baik. Jika ingin memuji dengan jelas, katakan It was a very good idea — “Itu ide yang sangat bagus.”

2. Membentuk pertanyaan retoris tanpa mengikuti tata bahasa

  • Keliru: Who doesn't loves a challenge?
  • Benar: Who doesn't love a challenge? — “Siapa yang tidak suka tantangan?”
  • Mengapa: Doesn't sudah membawa penanda bentuk kini untuk subjek tunggal. Kata kerja sesudahnya menggunakan bentuk dasar love. Tujuan retoris tidak menghapus aturan tata bahasa.

3. Mencampur bentuk dalam daftar yang seharusnya sejajar

  • Tidak sejajar: The course teaches speaking clearly, to write effectively, and listening carefully.
  • Sejajar: The course teaches speaking clearly, writing effectively, and listening carefully. — “Kursus itu mengajarkan cara berbicara dengan jelas, menulis secara efektif, dan menyimak dengan saksama.”
  • Mengapa: Ketiga kegiatan menjalankan fungsi yang sama, sehingga memakai pola -ing yang sama. Pola tidak sejajar mengganggu keterbacaan, meskipun maksudnya masih dapat ditebak.

4. Memakai hiperbola ketika angka harus akurat

  • Tidak tepat untuk laporan: We received a million complaints. — “Kami menerima sejuta keluhan”, padahal hanya 42.
  • Tepat untuk laporan: We received 42 complaints. — “Kami menerima 42 keluhan.”
  • Mengapa: Contoh pertama benar secara tata bahasa, tetapi menyesatkan dalam dokumen faktual. Hiperbola cocok jika sifat berlebihannya jelas dan tidak menggantikan informasi yang diperlukan.

5. Mengira bentuk pidato cocok untuk semua percakapan

  • Kurang wajar untuk pesan biasa: Ask not about the price.
  • Lebih wajar: Don't ask about the price. — “Jangan tanyakan harganya.”
  • Mengapa: Ask not dapat dipakai sengaja untuk meniru gaya pidato atau sastra, tetapi bukan pola larangan sehari-hari yang netral. Meniru kutipan terkenal tanpa memperhatikan suasana dapat membuat pesan terdengar dibuat-buat.

6. Memakai pertanyaan retoris saat penerima membutuhkan jawaban langsung

  • Kurang tepat untuk menjelaskan tenggat: How many times do I have to explain this? — “Berapa kali lagi saya harus menjelaskan ini?”
  • Lebih membantu: The deadline is Friday. Please send the file by noon. — “Tenggatnya hari Jumat. Tolong kirim berkas sebelum tengah hari.”
  • Mengapa: Pertanyaan pertama bisa terdengar mencela kemampuan pendengar. Masalahnya bukan tata bahasa, melainkan efek sosialnya.

Catatan Penggunaan

Pilih sesuai hubungan dan tujuan

Dengan teman dekat, hiperbola dan pengecilan makna sering menciptakan keakraban. Dalam komunikasi kerja, pujian seperti not bad bisa terdengar hangat, tetapi juga bisa dinilai setengah hati. Jika memberikan umpan balik kepada orang yang belum mengenal gaya bicara Anda, Your explanation was clear and helpful — “Penjelasan Anda jelas dan membantu” — lebih mudah dipahami daripada pujian yang harus ditebak.

Pertanyaan retoris dapat mengundang kebersamaan: Who wouldn't want a safer workplace? — “Siapa yang tidak menginginkan tempat kerja yang lebih aman?” Namun, pertanyaan itu juga mengandaikan bahwa semua orang setuju. Dalam pembahasan yang memang membutuhkan pendapat berbeda, pertanyaan terbuka lebih baik daripada memaksa kesepakatan secara tidak langsung.

Nada suara dan tanda baca membantu, tetapi tidak menentukan semuanya

Dalam percakapan, jeda, tekanan kata, dan ekspresi wajah dapat mengubah pembacaan not bad. Diucapkan dengan antusias, ungkapan itu dapat menjadi pujian kuat; diucapkan datar setelah hasil yang mengecewakan, maknanya mungkin sekadar “masih bisa diterima”. Jangan membuat aturan bahwa satu pola intonasi selalu menghasilkan satu makna.

Dalam tulisan, tanda tanya tetap lazim untuk pertanyaan retoris. Titik koma atau tanda pisah dapat memperjelas dua bagian yang berimbang, tetapi tanda baca tidak otomatis menciptakan antitesis atau kiasmus. Hubungan antara gagasan tetap yang utama.

Gaya tidak sama dengan bukti

Kalimat yang seimbang terdengar meyakinkan dan mudah dikutip. Itu tidak berarti isinya benar. Antitesis kadang menyederhanakan persoalan menjadi dua pilihan, padahal kenyataannya lebih rumit. Dalam esai argumentatif, pakai susunan retoris untuk memperjelas alasan, bukan untuk menggantikan alasan dan data.

Pembahasan Lanjutan

Litotes, pengecilan makna, dan ironi dapat bertumpang tindih

Ironi terjadi ketika maksud penutur berbeda dari, atau berlawanan dengan, arti yang tampak. Misalnya, seseorang melihat ruangan sangat berantakan lalu berkata Lovely! — “Indah sekali!” Kata positif itu menyampaikan penilaian negatif dalam konteks tersebut.

Litotes tidak selalu ironis. The result was not disappointing — “Hasilnya tidak mengecewakan” — bisa menjadi penilaian tulus yang hati-hati. Pengecilan makna juga tidak selalu merupakan sindiran: seseorang dapat mengecilkan kesulitannya agar tidak membuat keluarga khawatir. Saat menafsirkan, tanyakan apakah penutur sedang memuji, meremehkan, bercanda, menjaga perasaan, atau benar-benar memberikan penilaian sedang.

Penyangkalan juga dapat sepenuhnya harfiah. The room is not large — “Ruangan itu tidak besar” — biasanya hanya menggambarkan ukuran. Kehadiran not saja tidak cukup untuk menyebut kalimat sebagai litotes.

Kiasmus dan pengulangan terbalik bukan kategori yang selalu identik

Ada istilah antimetabole, yaitu pengulangan kata atau ungkapan yang sama dengan urutan terbalik. Kutipan Kennedy tentang negara dan warga merupakan contoh yang lazim dibahas dengan istilah ini. Dalam pemakaian luas, contoh seperti itu juga sering disebut kiasmus.

Sebagian analisis membedakan keduanya: antimetabole menekankan pengulangan kata, sedangkan kiasmus dapat membalik struktur atau hubungan tanpa mengulang semua kata. Bagi pembelajar, hal terpenting adalah melihat apa yang dibalik dan efeknya. Tidak perlu memaksakan satu label jika tujuan Anda adalah memahami pidato atau menyunting tulisan sendiri.

Satu kalimat dapat memadukan beberapa perangkat

We must learn to disagree without hatred and to cooperate without fear — “Kita harus belajar berbeda pendapat tanpa kebencian dan bekerja sama tanpa rasa takut” — memakai pola sejajar to ... without .... Maknanya juga mempertemukan dua kegiatan yang berbeda, tetapi tidak otomatis menjadi kiasmus: tidak ada pembalikan A–B menjadi B–A.

Sebaliknya, kutipan Dickens jelas memadukan paralelisme dan antitesis. Ini menunjukkan bahwa perangkat retoris bukan kotak yang selalu terpisah. Mulailah dengan pola yang dapat dibuktikan dari kalimat, baru tentukan istilahnya.

Mengubah susunan dapat mengubah fokus

Bandingkan We need action, not excuses — “Kita membutuhkan tindakan, bukan alasan” — dengan We don't need excuses; we need action — “Kita tidak membutuhkan alasan; kita membutuhkan tindakan”. Pesan intinya serupa, tetapi versi kedua berakhir pada tuntutan positif, sehingga cocok sebagai penutup ajakan.

Dalam penyuntingan, coba tempatkan unsur terpenting di akhir bagian atau kalimat, lalu baca keras-keras. Efeknya bukan aturan mutlak, tetapi posisi akhir sering memberi ruang bagi tekanan suara dan membuat pesan utama lebih melekat. Pastikan upaya mengejar irama tidak membuat hubungan makna menjadi kabur.

Tips Berlatih

  1. Pisahkan kata-kata dari maksudnya. Ambil lima ungkapan dari wawancara, pidato, atau percakapan. Tulis arti harfiahnya dalam bahasa Indonesia, lalu tulis maksud yang paling mungkin. Untuk not bad, catat juga petunjuk yang membuat Anda membacanya sebagai pujian kuat atau penilaian sedang.
  2. Buat dua versi pesan yang sama. Tulis satu versi langsung dan satu versi retoris. Misalnya, We should start now — “Kita sebaiknya mulai sekarang” — dan What are we waiting for? — “Apa lagi yang kita tunggu?” Tentukan versi mana yang cocok untuk teman, rapat, dan petunjuk kerja; jangan menganggap versi retoris selalu lebih unggul.
  3. Sunting satu paragraf, bukan hanya satu kalimat. Periksa daftar tindakan agar bentuknya sejajar, lalu pilih satu tempat untuk pertentangan atau pembalikan. Baca keras-keras. Jika setiap kalimat terdengar seperti slogan, kurangi perangkatnya dan kembalikan beberapa kalimat ke bentuk biasa.

Konsep Terkait

  • Dasar yang perlu dikuasai: Kata Tanya — memahami cara membentuk pertanyaan membantu membedakan pertanyaan yang mencari informasi dari pertanyaan yang terutama menyampaikan sikap.

Prasyarat

Kata Tanya dalam Bahasa InggrisA1

Konsep C2 lainnya

Konsep ini dalam bahasa lain

Bandingkan di semua bahasa