B1

Klausa tujuan dengan kí dan láti dalam bahasa Yoruba

Gbólóhùn Ète (Kí/Láti)

Artikel ini merupakan bagian dari pohon tata bahasa Yoruba di Settemila Lingue.

Ringkasan singkat

Bahasa Yoruba memakai láti + kata kerja untuk menyatakan tujuan seperti “untuk belajar”, dan kí + subjek + kata kerja untuk menyatakan “agar seseorang melakukan sesuatu”. Subjek adalah orang atau hal yang melakukan tindakan atau menjadi pokok pembicaraan. Bandingkan Mo wá láti kọ́ èdè Yorùbá “Saya datang untuk belajar bahasa Yoruba” dengan Mo wá kí o lè kọ́ èdè Yorùbá “Saya datang agar kamu bisa belajar bahasa Yoruba”: pilihan bentuk membantu memperjelas siapa yang diharapkan belajar.

Gambaran umum

Klausa tujuan adalah bagian kalimat yang menjelaskan untuk apa suatu tindakan dilakukan. Dalam bahasa Indonesia, kita sering memakai “untuk”, “agar”, “supaya”, atau bentuk percakapan “biar”. Bahasa Yoruba juga menyediakan beberapa cara untuk menyampaikan hubungan ini. Dua bentuk yang penting pada tingkat B1 ialah láti dan kí, terutama gabungan kí … lè … yang berarti “agar … bisa …”.

Perhatikan perbedaan antara kegiatan dan sasarannya. Dalam “Saya datang untuk belajar”, kedatangan merupakan tindakan utama, sedangkan belajar merupakan tujuan. Tujuan belum tentu tercapai: orang itu mungkin datang, tetapi pelajarannya kemudian dibatalkan. Pembedaan ini penting karena kalimat tujuan menyampaikan niat atau hasil yang diharapkan, bukan bukti bahwa hasil tersebut sudah terjadi.

Bagi penutur bahasa Indonesia, gagasan dasarnya cukup akrab. Tantangannya justru terletak pada bentuk setelah penghubung. Kita bisa mengatakan “Saya datang supaya bisa belajar” tanpa mengulang “saya”. Jangan langsung meniru penghilangan itu dalam bahasa Yoruba: setelah kí, biasanya perlu dinyatakan siapa yang melakukan tindakan berikutnya. Sebaliknya, dalam pola tujuan sederhana dengan láti, pelaku biasanya dipahami dari bagian utama kalimat.

Cara membentuk kalimat tujuan

1. Memakai láti untuk tujuan tindakan pelaku yang sama

Mulailah dengan pola tindakan utama + láti + kata kerja tujuan. Kata kerja adalah kata yang menyatakan kegiatan atau keadaan, misalnya “belajar”, “membeli”, atau “membantu”.

Mo wá láti kọ́ èdè Yorùbá.
“Saya datang untuk belajar bahasa Yoruba.”

Bagian-bagiannya:

  • Mo: saya, pelaku tindakan utama.
  • wá: datang.
  • láti: untuk, dalam hubungan tujuan ini.
  • kọ́ èdè Yorùbá: belajar bahasa Yoruba.

Dalam kalimat ini, orang yang datang dan orang yang belajar adalah orang yang sama. Tidak perlu menambahkan mo lagi sesudah láti. Anggaplah láti kọ́ èdè Yorùbá sebagai satu rangkaian “untuk belajar bahasa Yoruba”.

Pola yang sama dapat mengikuti tindakan selain datang:

A ṣe é láti ran wọ́n lọ́wọ́.
“Kami melakukannya untuk membantu mereka.”

Yang melakukan tindakan dan yang membantu adalah a, yaitu “kami/kita”. Orang yang dibantu adalah wọ́n, “mereka”. Jadi, “pelaku yang sama” bukan berarti semua orang yang disebut dalam kalimat harus sama. Yang dibandingkan ialah pelaku tindakan utama dan pelaku tindakan tujuan.

Untuk latihan awal, pakailah láti ketika jawabannya sederhana: “Saya melakukan ini untuk melakukan itu.” Ini pedoman praktis untuk pola tujuan, bukan aturan bahwa láti selalu mempunyai fungsi yang sama dalam setiap kalimat Yoruba.

2. Memakai kí ketika tujuan mempunyai subjek sendiri

Pola berikutnya ialah tindakan utama + kí + subjek + kata kerja:

Mo ṣí ilẹ̀kùn kí o wọlé.
“Saya membuka pintu agar kamu masuk.”

Ada dua pelaku yang berbeda: mo membuka pintu, sedangkan o masuk. Kehadiran subjek sesudah kí membuat pembagian ini jelas.

Namun, kí tidak mewajibkan pergantian pelaku. Pelakunya boleh tetap sama:

Mo wá kí n lè kọ́ èdè Yorùbá.
“Saya datang agar saya bisa belajar bahasa Yoruba.”

Kalimat ini berdekatan maknanya dengan contoh láti di atas. Perbedaannya bukan sekadar “pelaku sama atau berbeda”, melainkan juga cara tujuan disusun: láti diikuti rangkaian kata kerja, sedangkan kí memperkenalkan bagian dengan subjek yang dinyatakan.

3. Menambahkan lè untuk makna “bisa”

Dalam pola kí + subjek + lè + kata kerja, lè menyatakan kemampuan atau kemungkinan melakukan sesuatu. Dalam konteks tujuan, terjemahan yang sering paling alami ialah “agar bisa” atau “supaya dapat”.

Ó ṣiṣẹ́ kí ó lè jẹun.
“Dia bekerja agar bisa makan.”

Tujuannya bukan sekadar menyebut makan, melainkan menciptakan keadaan yang memungkinkan orang itu makan. Begitu juga dengan nasihat berikut:

Ṣe dáadáa kí o lè borí.
“Lakukan dengan baik agar kamu bisa berhasil.”

Lè bukan penghubung tujuan dan tidak menggantikan kí. Keduanya menjalankan tugas berbeda: kí menghubungkan tindakan dengan tujuan, sedangkan lè menambahkan makna “bisa” di dalam bagian tujuan. Karena itu, lè juga tidak harus muncul dalam setiap kalimat dengan kí. Kí o wọlé sudah dapat menyatakan “agar kamu masuk”.

4. Memperhatikan bentuk orang setelah kí

Kata ganti adalah kata seperti “saya”, “kamu”, atau “mereka” yang menggantikan nama orang. Bentuk sesudah kí perlu dipelajari sebagai rangkaian, bukan dengan selalu menyalin bentuk pada awal kalimat.

Rangkaian Yoruba Arti Catatan
kí n lè kọ́ agar saya bisa belajar Untuk “saya”, gunakan bentuk pendek n dalam pola ini.
kí o lè kọ́ agar kamu bisa belajar o mengacu pada seorang lawan bicara.
kí ó lè kọ́ agar dia bisa belajar ó tidak membedakan laki-laki dan perempuan.
kí a lè kọ́ agar kami/kita bisa belajar Keterlibatan lawan bicara diketahui dari konteks.
kí ẹ lè kọ́ agar kalian bisa belajar ẹ juga dapat dipakai untuk sapaan hormat.
kí wọ́n lè kọ́ agar mereka bisa belajar Bentuk jamak orang ketiga.

Perhatikan khususnya o “kamu” dan ó “dia”. Tanda nada bukan hiasan. Dalam tulisan pembelajaran, perbedaan ini membantu pembaca menentukan siapa yang dimaksud. Bentuk kí n juga tidak perlu diubah menjadi kí mo hanya karena kalimat utama dimulai dengan Mo.

Contoh dalam konteks

Tujuan kegiatan sehari-hari

Contoh berikut mencakup perjalanan, belajar, pekerjaan, dan membantu orang lain. Terjemahan memakai “untuk” atau “agar” sesuai hubungan yang paling alami dalam bahasa Indonesia.

Bahasa Yoruba Bahasa Indonesia Catatan
Mo wá láti kọ́ èdè Yorùbá. Saya datang untuk belajar bahasa Yoruba. Orang yang datang juga belajar.
A ṣe é láti ran wọ́n lọ́wọ́. Kami melakukannya untuk membantu mereka. wọ́n adalah pihak yang dibantu.
Mo lọ sí ọjà láti ra oúnjẹ. Saya pergi ke pasar untuk membeli makanan. Tempat tujuan muncul sebelum láti.
Ó jókòó láti ka ìwé. Dia duduk untuk membaca buku. Tindakan utama dipersiapkan untuk kegiatan berikutnya.
Wọ́n wá láti ṣiṣẹ́. Mereka datang untuk bekerja. Tujuan berlaku bagi pelaku jamak.
A pàdé láti sọ̀rọ̀. Kami bertemu untuk berbicara. Pertemuan mempunyai tujuan tertentu.

Tujuan dengan pelaku yang dinyatakan

Bahasa Yoruba Bahasa Indonesia Catatan
Ó ṣiṣẹ́ kí ó lè jẹun. Dia bekerja agar bisa makan. lè menonjolkan kemungkinan melakukan tindakan.
Ṣe dáadáa kí o lè borí. Lakukan dengan baik agar kamu bisa berhasil. Nasihat diikuti tujuan yang diharapkan.
Mo ṣí ilẹ̀kùn kí o wọlé. Saya membuka pintu agar kamu masuk. Pelaku berganti dari “saya” menjadi “kamu”.
Mo wá kí n lè kọ́ èdè Yorùbá. Saya datang agar bisa belajar bahasa Yoruba. Pelaku tetap sama meskipun memakai kí.
Sọ̀rọ̀ sókè kí a lè gbọ́ ọ. Bicaralah lebih keras agar kami bisa mendengarmu. Tujuan perintahnya ialah memungkinkan orang lain mendengar.
Rìn díẹ̀díẹ̀ kí o má ṣubú. Berjalanlah pelan-pelan agar kamu tidak jatuh. Tujuannya mencegah kejadian yang tidak diinginkan.

Dalam contoh perintah seperti Ṣe dáadáa, pelaku tindakan utama tidak disebut dengan kata ganti terpisah: perintah itu ditujukan kepada lawan bicara. Meskipun demikian, bagian sesudah kí tetap menyatakan subjeknya melalui o.

Kesalahan yang sering terjadi

1. Menghilangkan subjek sesudah kí

  • Keliru untuk maksud ini: Mo ṣí ilẹ̀kùn kí wọlé.
  • Benar: Mo ṣí ilẹ̀kùn kí o wọlé.
  • Artinya: “Saya membuka pintu agar kamu masuk.”

Dalam bahasa Indonesia, pelaku kadang dibiarkan tersirat. Dalam pola Yoruba ini, tambahkan o supaya jelas bahwa yang masuk ialah “kamu”. Jangan menganggap kí langsung diikuti kata kerja seperti láti.

2. Menaruh kata ganti pelaku langsung setelah láti

  • Keliru untuk pola tujuan sederhana: Mo wá láti mo kọ́ èdè Yorùbá.
  • Benar: Mo wá láti kọ́ èdè Yorùbá.
  • Artinya: “Saya datang untuk belajar bahasa Yoruba.”

Láti di sini langsung diikuti kegiatan yang menjadi tujuan. Kalau ingin menyusun bagian tujuan dengan subjek tersendiri, gunakan pola kí, misalnya Mo wá kí n lè kọ́ èdè Yorùbá, “Saya datang agar bisa belajar bahasa Yoruba”.

3. Menyamakan o dengan ó

  • Tidak sesuai jika yang dimaksud “kamu”: Ṣe dáadáa kí ó lè borí.
  • Sesuai maksud itu: Ṣe dáadáa kí o lè borí.
  • Artinya: “Lakukan dengan baik agar kamu bisa berhasil.”

Versi pertama bukan rangkaian yang mustahil, tetapi tujuan yang dinyatakan ialah agar dia bisa berhasil. Kesalahannya terletak pada makna yang dituju. Pertahankan tanda nada agar “kamu” tidak berubah menjadi “dia”.

4. Menganggap lè saja sudah berarti “agar”

  • Keliru sebagai satu kalimat tujuan: Ó ṣiṣẹ́ lè jẹun.
  • Benar: Ó ṣiṣẹ́ kí ó lè jẹun.
  • Artinya: “Dia bekerja agar bisa makan.”

Jangan merapatkan “bekerja” dan “bisa makan” tanpa penghubung dan subjek yang diperlukan. Untuk makna “agar dia bisa”, pelajari rangkaian kí ó lè sebagai satu pola yang mudah diingat.

5. Memakai penyangkalan pernyataan biasa setelah kí

  • Keliru dalam pola ini: Rìn díẹ̀díẹ̀ kí o kò ṣubú.
  • Benar: Rìn díẹ̀díẹ̀ kí o má ṣubú.
  • Artinya: “Berjalanlah pelan-pelan agar kamu tidak jatuh.”

Kò lazim dalam pernyataan negatif biasa, tetapi untuk tujuan negatif yang dibahas di sini, gunakan kí + subjek + má + kata kerja. Menghafal seluruh rangkaian lebih aman daripada menerjemahkan setiap “tidak” menjadi bentuk yang sama.

Catatan pemakaian

Keduanya bukan pasangan “resmi” dan “santai”

Jangan memilih láti hanya karena ingin terdengar resmi, atau kí hanya karena sedang bercakap-cakap. Keduanya dipakai untuk menyatakan tujuan. Pertimbangkan dulu susunan kalimat, siapa pelakunya, dan apakah makna “bisa” perlu ditonjolkan.

Terjemahan Indonesia pun tidak selalu satu banding satu. Láti sering cocok dengan “untuk”, sedangkan kí sering cocok dengan “agar” atau “supaya”. Namun, kalimat Mo wá kí n lè kọ́ èdè Yorùbá dapat diterjemahkan secara alami sebagai “Saya datang supaya bisa belajar bahasa Yoruba”, tanpa mengulang “saya”. Terjemahan yang lancar boleh berbeda susunannya; bentuk Yoruba tetap harus lengkap.

Waktu diketahui dari kalimat dan konteks

Jangan menganggap bagian sesudah kí otomatis merupakan bentuk masa depan. Tujuannya memang dilihat sebagai sesuatu yang diharapkan dari tindakan utama, tetapi itu tidak berarti semua tujuan harus diterjemahkan dengan “akan”.

Mo wá láti kọ́ èdè Yorùbá dapat diterjemahkan “Saya datang untuk belajar bahasa Yoruba”. Kapan kedatangan itu berlangsung ditentukan oleh konteks atau penanda waktu tambahan. Bentuk kata kerja dalam contoh ini tidak berubah seperti imbuhan yang selalu menandai waktu lampau.

Dia yang mana?

Dalam Ó ṣiṣẹ́ kí ó lè jẹun, pembacaan paling wajar tanpa konteks tambahan ialah orang yang bekerja juga orang yang makan. Akan tetapi, kata ganti “dia” tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa dua penyebutannya selalu mengacu pada orang yang sama.

Jika cerita melibatkan beberapa orang, gunakan nama pada tempat yang diperlukan. Misalnya, Mo ṣiṣẹ́ kí Adé lè jẹun berarti “Saya bekerja agar Adé bisa makan”. Menyebut nama membantu ketika pendengar tidak dapat menebak siapa yang dimaksud.

Pendalaman: batas makna dan pola yang berkaitan

Tujuan negatif dan tindakan yang tidak dilakukan

Bedakan melakukan sesuatu agar hal lain tidak terjadi dari tidak melakukan sesuatu. Pada Rìn díẹ̀díẹ̀ kí o má ṣubú, “Berjalanlah pelan-pelan agar kamu tidak jatuh”, larangan atau pencegahannya berada di bagian tujuan. Berjalan pelan tetap merupakan tindakan yang diminta.

Letak má sesudah subjek tujuan menunjukkan apa yang ingin dicegah. Ini sejalan dengan perbedaan Indonesia antara “Saya tidak membuka pintu” dan “Saya membuka pintu agar kamu tidak kepanasan”: kata “tidak” mengenai bagian yang berbeda. Sebelum menyusun kalimat negatif, tentukan dahulu tindakan mana yang tidak diinginkan.

Tujuan bukan penyebab

“Untuk apa?” berbeda dari “Karena apa?” Kalimat Mo wá láti kọ́ èdè Yorùbá menyatakan sasaran kedatangan, yaitu belajar. Kalimat itu bukan sekadar menyebut penyebab yang sudah ada atau kejadian sebelumnya.

Dalam bahasa Indonesia, “karena ingin belajar” kadang dapat menjelaskan niat yang sama. Namun, jangan lalu menganggap setiap “karena” bisa diganti láti atau kí. Jika maksudnya “karena hujan” atau “karena sakit”, hubungan yang perlu dinyatakan ialah sebab, bukan pola tujuan yang sedang dipelajari.

Tujuan tidak menjamin hasil

Mo ṣí ilẹ̀kùn kí o wọlé, “Saya membuka pintu agar kamu masuk”, tidak memastikan bahwa kamu akhirnya masuk. Bisa saja kamu tetap berdiri di luar. Demikian pula, bekerja agar bisa makan tidak menyatakan bahwa makanan sudah diperoleh.

Saat membaca cerita, pisahkan tiga hal: tindakan yang dilakukan, hasil yang diharapkan, dan hasil yang benar-benar terjadi. Kí dalam fungsi tujuan memperkenalkan bagian kedua. Untuk menyatakan hasil nyata, konteks atau pernyataan tambahan diperlukan.

Tidak setiap láti atau kí memperkenalkan tujuan

Láti juga muncul dalam susunan yang melengkapi kata kerja lain. Mo fẹ́ láti kọ́ èdè Yorùbá berarti “Saya ingin belajar bahasa Yoruba”. Bagian “belajar bahasa Yoruba” menjelaskan apa yang diinginkan, bukan tujuan dari tindakan datang atau pergi. Láti juga dapat menandai asal, seperti láti Èkó, “dari Lagos”. Karena itu, terjemahkan berdasarkan susunannya, bukan satu arti tetap.

Kí pun dapat muncul dalam permintaan atau arahan. Kí o wọlé dapat dipahami sebagai “Hendaknya kamu masuk”. Jika tidak ada tindakan utama sebelumnya, jangan memaksakan terjemahan “agar” yang seolah-olah bergantung pada kalimat yang hilang. Fungsi tujuan terlihat jelas ketika bagian itu menerangkan sasaran tindakan lain.

Hubungannya dengan rangkaian kata kerja

Pada tahap A2, rangkaian kata kerja dasar memperkenalkan cara menggabungkan beberapa tindakan dalam satu ujaran. Pola tujuan memperjelas hubungan yang lebih khusus: bukan hanya ada dua kegiatan, melainkan kegiatan pertama dilakukan demi kegiatan kedua.

Bagi pelajar, láti membantu menandai “ini tujuannya”, sedangkan kí memungkinkan tujuan mempunyai pelaku yang disebut jelas. Jangan menghapus penghubung hanya karena bahasa Yoruba juga mengenal rangkaian kata kerja. Ada susunan lain yang dapat menyiratkan tujuan, tetapi penghilangan tidak bisa dilakukan sembarangan pada setiap contoh di artikel ini.

Saran latihan

  1. Mulai dari tiga kegiatan nyata. Tulis alasan pergi ke pasar, datang ke kelas, atau bertemu teman. Susun dulu dalam bahasa Indonesia dengan “untuk”, lalu gunakan láti jika pelakunya tetap sama. Garisbawahi tindakan utama dan lingkari kegiatan yang menjadi tujuan.
  2. Ubah siapa yang mendapat kesempatan bertindak. Bandingkan Mo wá láti kọ́ èdè Yorùbá “Saya datang untuk belajar bahasa Yoruba” dan Mo wá kí o lè kọ́ èdè Yorùbá “Saya datang agar kamu bisa belajar bahasa Yoruba”. Ulangi dengan a dan wọ́n. Periksa kembali apakah terjemahannya masih menunjuk orang yang tepat.
  3. Latih bunyi sekaligus makna. Baca kí o lè dan kí ó lè dengan bantuan rekaman penutur jika tersedia. Setelah itu, latih satu kalimat pencegahan, seperti Rìn díẹ̀díẹ̀ kí o má ṣubú, “Berjalanlah pelan-pelan agar kamu tidak jatuh”. Sebutkan siapa pelakunya dan apa yang ingin dicegah sebelum membaca seluruh kalimat.

Konsep terkait

  • Dasar yang perlu dikuasai: Rangkaian kata kerja dasar — membantu memahami bagaimana beberapa tindakan tersusun dalam kalimat Yoruba sebelum hubungan tujuannya dinyatakan dengan láti atau kí.

Prasyarat

Konstruksi Verba Serial Dasar dalam Bahasa YorubaA2

Konsep B1 lainnya

Konsep ini dalam bahasa lain

Bandingkan di semua bahasa