Struktur Klausa Kompleks dalam Bahasa Yoruba
Ìṣọ̀kan Gbólóhùn Ìjìnlẹ̀
Artikel ini merupakan bagian dari pohon tata bahasa Yoruba di Settemila Lingue.
Ringkasan
Kalimat kompleks bahasa Yoruba dibangun dengan menggabungkan bagian-bagian yang masing-masing memiliki tugas jelas: tí menerangkan orang atau benda, pé memperkenalkan isi pernyataan, dan bí … bá dapat membuka syarat. Satu bagian dapat berada di dalam bagian lain, sementara ni membantu menonjolkan informasi atau menghubungkan unsur yang diidentifikasi. Kunci membacanya bukan menghitung banyaknya kata penghubung, melainkan menentukan siapa melakukan apa dan bagian mana menerangkan bagian mana.
Gambaran umum
Klausa adalah bagian kalimat yang menyatakan suatu tindakan, keadaan, atau hubungan, biasanya dengan subjek, yaitu orang atau hal yang dibicarakan. Dalam kalimat “Saya tahu bahwa orang yang datang kemarin adalah gurumu”, ada pernyataan utama “saya tahu”, isi yang diketahui, dan keterangan tentang “orang”. Bahasa Yoruba juga dapat menyusun lapisan semacam ini, tetapi penanda dan cara mengisi setiap lapisannya tidak selalu sama dengan bahasa Indonesia.
Pada tingkat C1, tantangannya bukan sekadar mengenal tí, melainkan mengikuti beberapa klausa sekaligus. Anda akan menjumpainya dalam penjelasan resmi, berita, pidato, dan uraian panjang. Klausa relatif—bagian yang menerangkan orang atau benda, seperti “yang datang kemarin”—dapat berisi pernyataan dengan pé; seluruh kelompok itu lalu menjadi bagian kalimat yang lebih besar. Verba beruntun, yaitu beberapa kata kerja yang bersama-sama menggambarkan satu rangkaian tindakan, juga dapat muncul di dalamnya.
Bagi pembaca berbahasa Indonesia, dua hal terasa cukup akrab: kata kerja Yoruba tidak berubah bentuk menurut orang, dan keterangan seperti “sudah” dapat dinyatakan dengan kata tersendiri. Namun, jangan menganggap semua tí berarti “yang” atau setiap rangkaian kata kerja bisa diterjemahkan kata demi kata. Nada, posisi penanda, dan hubungan antarpelaku tetap menentukan makna.
Cara kerjanya
1. Temukan kerangka utama sebelum membuka lapisan tambahan
Perhatikan kalimat berikut:
Ọkùnrin tí mo rí tí ó sọ pé ó fẹ́ lọ ni bàbá rẹ̀.
“Laki-laki yang saya lihat, yang mengatakan bahwa ia ingin pergi, adalah ayahmu.”
Kerangka utamanya ialah Ọkùnrin … ni bàbá rẹ̀, “Laki-laki … adalah ayahmu”. Bagian di tengah menjelaskan laki-laki yang dimaksud:
- tí mo rí — “yang saya lihat”;
- tí ó sọ … — “yang mengatakan …”;
- pé ó fẹ́ lọ — “bahwa ia ingin pergi”.
Dua bagian dengan tí sama-sama memberikan keterangan tentang laki-laki itu dalam pembacaan yang dimaksud di sini. Bagian dengan pé berbeda: bagian tersebut menyebutkan isi perkataannya, bukan menambahkan orang baru.
Cara ini lebih membantu daripada langsung menerjemahkan dari kiri ke kanan. Pegang terlebih dahulu inti “laki-laki itu adalah ayahmu”, lalu masukkan informasi pengenalnya. Pada kalimat lain, periksa kembali rujukan setiap bagian; pengulangan tí tidak otomatis menjamin bahwa semua keterangannya mengacu pada orang yang sama.
2. Bedakan fungsi tí dan pé
Kata benda adalah kata yang menamai orang, benda, tempat, atau gagasan. Kelompok kata benda beserta keterangannya dapat diperpanjang dengan tí. Sebaliknya, setelah kata kerja seperti sọ, “mengatakan”, pé dapat memperkenalkan klausa isi: pernyataan yang dikatakan, diketahui, atau dipikirkan.
| Pola Yoruba | Arti | Fungsi |
|---|---|---|
| ẹni tí mo rí | orang yang saya lihat | tí menerangkan ẹni, “orang”. |
| Ó sọ pé mo ti dé. | Ia mengatakan bahwa saya sudah tiba. | pé memperkenalkan isi perkataan. |
| ẹni tí ó sọ pé mo ti dé | orang yang mengatakan bahwa saya sudah tiba | Klausa dengan pé berada di dalam keterangan dengan tí. |
| Mo mọ̀ pé ẹni tí ó dé jẹ́ olùkọ́. | Saya tahu bahwa orang yang datang itu seorang guru. | Keterangan dengan tí berada di dalam isi yang diperkenalkan pé. |
Dalam bahasa Indonesia, “yang” dan “bahwa” juga berbeda fungsi. Perbandingan ini berguna, tetapi bukan padanan mutlak untuk semua pemakaian kedua kata Yoruba tersebut. Di sini, gunakan pertanyaan praktis: “Apakah bagian berikutnya mengenali suatu orang atau benda, atau menyampaikan isi pernyataan?”
3. Peran orang yang diterangkan menentukan bentuk klausa relatif
Bandingkan ọkùnrin tí mo rí, “laki-laki yang saya lihat”, dengan ọkùnrin tí ó dé, “laki-laki yang datang”. Pada contoh pertama, laki-laki itu adalah objek, yaitu orang yang dikenai tindakan melihat. Subjeknya adalah mo, “saya”. Pada contoh kedua, laki-laki itulah yang datang; bentuk subjek ó muncul di dalam klausa.
Ini berbeda dari kebiasaan bahasa Indonesia. Kita dapat mengatakan “orang yang datang” tanpa menambahkan “dia”. Dalam pola Yoruba ẹni tí ó dé, jangan menghapus ó hanya karena terjemahan Indonesianya tidak memerlukan kata “dia”. Bentuk ó di sini bukan alasan untuk menerjemahkan hasilnya menjadi “orang yang dia datang”; terjemahan Indonesia tetap “orang yang datang”.
Hubungan dengan objek juga dapat melibatkan kata yang menunjukkan tujuan. Pada ẹni tí mo fi lẹ́tà ránṣẹ́ sí, “orang yang saya kirimi surat”, sí mempertahankan hubungan “kepada” orang tersebut. Kata “kepada” tidak tampak dalam terjemahan “saya kirimi”, tetapi hubungannya tetap ada dalam susunan Yoruba.
4. Gabungkan syarat dengan klausa yang lebih kecil
Bí o bá rí ẹni tí mo fi lẹ́tà ránṣẹ́ sí, sọ fún un pé mo ti dé.
“Jika kamu bertemu orang yang saya kirimi surat, beri tahu dia bahwa saya sudah tiba.”
Kalimat ini memiliki dua bagian besar:
- Bí o bá rí ẹni … — syarat: “Jika kamu bertemu orang …”.
- sọ fún un … — instruksi: “beri tahu dia …”.
Di dalam syarat terdapat tí mo fi lẹ́tà ránṣẹ́ sí, yang menjelaskan orang tersebut. Di dalam instruksi terdapat pé mo ti dé, yang menyebutkan isi pesan.
Pola bí … bá di sini menyatakan syarat. Bá bukan kata yang harus mendapat terjemahan Indonesia terpisah. Jangan pula menyimpulkan bahwa setiap kemunculan bí selalu merupakan syarat; fungsi sebuah kata harus dibaca bersama pola kalimatnya.
5. Perhatikan ni sebagai penanda informasi penting
Fokus adalah unsur yang sengaja ditonjolkan, misalnya jawaban khusus atas pertanyaan “yang mana?”. Bahasa Yoruba menggunakan ni dalam konstruksi fokus, dan bentuk ini juga muncul dalam kalimat identifikasi seperti contoh tentang ayah tadi. Oleh karena itu, ni tidak selalu cukup dijelaskan sebagai padanan biasa dari “adalah”.
Lẹ́tà tí mo kọ ni mo fi ránṣẹ́.
“Surat yang saya tulislah yang saya kirim.”
Kelompok lẹ́tà tí mo kọ, “surat yang saya tulis”, ditempatkan sebelum ni. Yang ditonjolkan bukan sekadar kegiatan mengirim, melainkan surat tertentu. Bandingkan dengan:
Mo fi lẹ́tà tí mo kọ ránṣẹ́.
“Saya mengirim surat yang saya tulis.”
Informasi dasarnya dekat, tetapi susunan kedua lebih netral. Bahasa Indonesia dapat membantu dengan akhiran “-lah” atau susunan “yang … itu”, meskipun terjemahan yang paling wajar bergantung pada konteks.
Contoh lain dari konsep ini adalah:
Ohun tí ó ṣe pàtàkì jùlọ ni pé a gbọ́dọ̀ ṣiṣẹ́.
“Hal yang paling penting adalah bahwa kita harus bekerja.”
Di sini, ohun tí … membentuk kelompok bermakna “hal yang …”, sedangkan pé … menyebutkan isi hal tersebut. Dalam bahasa Indonesia yang lebih luwes: “Yang paling penting, kita harus bekerja.”
6. Pisahkan verba beruntun dari klausa berlapis
Tidak semua kalimat dengan banyak kata kerja memiliki banyak klausa terpisah. Dalam Ó mú ìwé wá, “Ia membawa buku ke sini”, mú, “mengambil/membawa”, dan wá, “datang”, bekerja bersama untuk menggambarkan tindakan membawa ke arah pembicara.
Begitu pula, fi … ránṣẹ́ dalam contoh surat perlu dibaca sebagai bagian dari susunan pengiriman, bukan sebagai dua peristiwa yang selalu terpisah. Fi dapat berfungsi dalam konstruksi yang menyatakan penggunaan sesuatu; tafsir tepatnya bergantung pada rangkaian yang diikutinya.
Jika peristiwa kedua perlu dinyatakan sebagai langkah tersendiri, penghubung seperti lẹ́yìn náà, “setelah itu”, dapat membuat urutannya jelas:
Ó ka lẹ́tà náà, lẹ́yìn náà ó sọ pé òun fẹ́ lọ.
“Ia membaca surat itu, lalu mengatakan bahwa ia ingin pergi.”
Perhatikan bahwa subjek disebut lagi setelah penghubung. Jangan mengubah setiap “lalu” dalam bahasa Indonesia menjadi sekadar menempelkan kata kerja berikutnya. Verba beruntun memiliki pola yang dipakai penutur, bukan aturan bebas untuk menggabungkan kata kerja apa saja.
7. Baca penanda aspek pada lapisan yang tepat
Aspek adalah cara melihat berlangsungnya suatu tindakan: misalnya sudah selesai atau sedang terjadi. Ti, tanpa tanda nada tinggi, dapat menandai bahwa tindakan sudah terjadi; ń menandai tindakan yang sedang berlangsung dalam pola seperti ó ń ṣiṣẹ́, “ia sedang bekerja”.
Mo mọ̀ pé ẹni tí ó ń ṣiṣẹ́ níbẹ̀ ti dé.
“Saya tahu bahwa orang yang bekerja di sana sudah tiba.”
Di sini:
- ń ṣiṣẹ́ menerangkan orang itu melalui kegiatan bekerja di sana;
- ti dé menyatakan bahwa orang tersebut sudah tiba;
- mọ̀ menyatakan pengetahuan pembicara.
Penanda pada satu bagian tidak otomatis berlaku untuk semua bagian. Bahasa Indonesia juga membedakan “orang yang sedang bekerja” dan “orang yang sudah bekerja”; gunakan kepekaan yang sama ketika menelusuri letak ń dan ti.
Contoh dalam konteks
Tabel berikut menggabungkan klausa relatif, isi pernyataan, syarat, fokus, dan rangkaian tindakan. Terjemahannya dibuat wajar dalam bahasa Indonesia, sehingga tidak setiap kata Yoruba mendapat padanan tersendiri.
| Bahasa Yoruba | Bahasa Indonesia | Yang perlu diperhatikan |
|---|---|---|
| Ọkùnrin tí mo rí tí ó sọ pé ó fẹ́ lọ ni bàbá rẹ̀. | Laki-laki yang saya lihat, yang mengatakan bahwa ia ingin pergi, adalah ayahmu. | Dua keterangan tentang laki-laki, dengan isi perkataan di dalam salah satunya. |
| Bí o bá rí ẹni tí mo fi lẹ́tà ránṣẹ́ sí, sọ fún un pé mo ti dé. | Jika kamu bertemu orang yang saya kirimi surat, beri tahu dia bahwa saya sudah tiba. | Syarat dan instruksi masing-masing mempunyai bagian tambahan. |
| Ohun tí ó ṣe pàtàkì jùlọ ni pé a gbọ́dọ̀ ṣiṣẹ́. | Hal yang paling penting adalah bahwa kita harus bekerja. | Kelompok dengan ohun tí diikuti penjelasan isinya. |
| Mo mọ̀ pé ẹni tí ó dé jẹ́ olùkọ́. | Saya tahu bahwa orang yang datang itu seorang guru. | Klausa relatif berada di dalam hal yang diketahui. |
| Olùkọ́ tí mo rí sọ pé àwọn ọmọ ti dé. | Guru yang saya lihat mengatakan bahwa anak-anak sudah tiba. | mo adalah pelaku melihat, sedangkan guru adalah pelaku mengatakan. |
| Mo rí ọkùnrin tí ó sọ pé òun fẹ́ lọ. | Saya melihat laki-laki yang mengatakan bahwa ia sendiri ingin pergi. | òun membantu merujuk pada orang yang perkataannya dilaporkan. |
| Lẹ́tà tí mo kọ ni mo fi ránṣẹ́. | Surat yang saya tulislah yang saya kirim. | Surat tertentu menjadi informasi yang ditonjolkan. |
| Mo fi lẹ́tà tí mo kọ ránṣẹ́. | Saya mengirim surat yang saya tulis. | Klausa relatif muncul dalam susunan yang lebih netral. |
| Ó mú ìwé tí mo béèrè fún wá. | Ia membawa ke sini buku yang saya minta. | Rangkaian mú … wá memuat objek dengan klausa relatif. |
| Ó ka lẹ́tà náà, lẹ́yìn náà ó sọ pé òun fẹ́ lọ. | Ia membaca surat itu, lalu mengatakan bahwa ia ingin pergi. | Penghubung memperjelas dua langkah, bukan sekadar dua verba beruntun. |
| Mo mọ̀ pé ẹni tí ó ń ṣiṣẹ́ níbẹ̀ ti dé. | Saya tahu bahwa orang yang bekerja di sana sudah tiba. | Kegiatan bekerja dan kedatangan memiliki penanda aspek sendiri. |
| Bí o bá parí iṣẹ́ tí mo fún ọ, o lè lọ. | Jika kamu menyelesaikan pekerjaan yang saya berikan kepadamu, kamu boleh pergi. | Klausa relatif mengidentifikasi pekerjaan di dalam syarat. |
Kesalahan umum
1. Memakai tí untuk isi perkataan
- Keliru untuk maksud ini: Ó sọ tí mo ti dé.
- Benar: Ó sọ pé mo ti dé. — “Ia mengatakan bahwa saya sudah tiba.”
- Penjelasan: Setelah “mengatakan”, yang dibutuhkan di sini adalah isi pernyataan, bukan keterangan “yang …” tentang suatu orang atau benda. Kenali fungsinya sebelum memilih penghubung.
2. Menghapus subjek karena terjemahan Indonesia tidak memilikinya
- Keliru: ẹni tí dé
- Benar: ẹni tí ó dé — “orang yang datang”.
- Penjelasan: Dalam pola ini, ó mengisi posisi subjek di dalam klausa relatif. Bandingkan dengan ẹni tí mo rí, “orang yang saya lihat”, yang sudah memiliki mo sebagai subjek. Jangan menyamaratakan kedua susunan tersebut.
3. Menghilangkan hubungan kepada penerima
- Tidak lengkap untuk maksud ini: ẹni tí mo fi lẹ́tà ránṣẹ́
- Benar: ẹni tí mo fi lẹ́tà ránṣẹ́ sí — “orang yang saya kirimi surat”.
- Penjelasan: Sí menunjukkan arah atau penerima pengiriman dalam konstruksi ini. Bahasa Indonesia merangkum hubungan itu dalam “kirimi”; bahasa Yoruba tetap memerlukan bentuk hubungan yang sesuai.
4. Menyamakan ti dengan tí
- Keliru untuk arti “sudah tiba”: Ó tí dé.
- Benar: Ó ti dé. — “Ia sudah tiba.”
- Penjelasan: Ti sebagai penanda “sudah” berbeda dari tí yang dipakai dalam klausa relatif. Tanda nada bukan hiasan. Saat mengetik catatan belajar, pertahankan tanda tersebut agar batas dan fungsi kata tidak tertukar.
5. Menganggap semua “ia” pasti orang yang sama
- Pembacaan keliru: Adé sọ pé ó ti dé pasti berarti “Adé mengatakan bahwa Adé sudah tiba”.
- Bentuk yang lebih jelas untuk rujukan pada pembicara laporan: Adé sọ pé òun ti dé. — “Adé mengatakan bahwa ia sendiri sudah tiba.”
- Penjelasan: Kalimat pertama tidak otomatis salah, tetapi rujukan ó memerlukan konteks. Òun dapat digunakan untuk mengacu pada orang yang menjadi sumber perkataan atau sudut pandang yang dilaporkan. Jangan menentukan rujukan hanya dari terjemahan “ia”.
Catatan penggunaan
Kalimat berlapis berguna dalam tulisan resmi karena beberapa informasi dapat dirangkum dengan tepat. Namun, panjangnya kalimat tidak menentukan tingkat kesopanannya. Kalimat sederhana yang jelas sering lebih sesuai daripada rangkaian panjang dengan rujukan yang kabur.
Dalam percakapan, penutur dapat menyampaikan informasi yang sama dalam beberapa kalimat. Misalnya, alih-alih menumpuk semuanya, informasi tentang guru bisa dipecah menjadi Mo rí olùkọ́ náà. Ó sọ pé àwọn ọmọ ti dé., “Saya melihat guru itu. Ia mengatakan bahwa anak-anak sudah tiba.” Pemecahan seperti ini bukan berarti tata bahasanya kurang baik; tujuannya memudahkan pendengar mengikuti informasi.
Kata ganti orang ketiga ó tidak membedakan laki-laki dan perempuan seperti “dia” dalam bahasa Indonesia. Hal ini tidak menyulitkan selama rujukannya jelas. Kesulitan muncul ketika beberapa orang disebut dalam satu rangkaian. Dalam keadaan itu, sebutkan kembali nama atau kelompok kata benda bila diperlukan, atau gunakan bentuk yang sesuai untuk menandai sudut pandang laporan.
Saat membaca lantang, beri jeda pada batas bagian besar, misalnya antara syarat dan instruksi. Akan tetapi, jeda dan koma hanya membantu pembacaan: keduanya tidak menggantikan tí, pé, atau bentuk lain yang membangun hubungan antarklausa.
Pendalaman dan penggunaan lanjutan
Klausa berurutan dan klausa yang benar-benar bersarang
Dua keterangan dengan tí dapat memberikan dua informasi sejajar tentang satu orang. Ini berbeda dari klausa yang berada di dalam klausa lain.
Mo rí ẹni tí ó mọ̀ ọkùnrin tí ó kọ lẹ́tà náà.
“Saya melihat orang yang mengenal laki-laki yang menulis surat itu.”
Mulailah dari Mo rí ẹni, “Saya melihat orang”. Orang itu diterangkan dengan tí ó mọ̀ ọkùnrin …, “yang mengenal laki-laki …”. Kemudian laki-laki tersebut diterangkan dengan tí ó kọ lẹ́tà náà, “yang menulis surat itu”. Jadi, orang yang dilihat dan laki-laki yang menulis surat tidak harus orang yang sama.
Untuk mengecek pemahaman, ajukan tiga pertanyaan: siapa yang dilihat, siapa yang mengenal, dan siapa yang menulis? Jika jawaban Anda berubah-ubah, jangan lanjut menerjemahkan sebelum hubungan ini jelas.
Fokus atas kelompok yang sudah memiliki keterangan
Unsur sebelum ni tidak harus satu kata. Pada Lẹ́tà tí mo kọ ni mo fi ránṣẹ́, seluruh kelompok “surat yang saya tulis” menjadi fokus. Klausa relatif di dalam kelompok itu membantu mengenali surat; ni bekerja pada hubungan kelompok tersebut dengan kalimat sisanya.
Karena itu, jangan memberi tekanan yang sama pada semua unsur. Bayangkan seseorang bertanya surat mana yang dikirim: jawaban menyoroti identitas surat, bukan fakta bahwa Anda menulis sesuatu. Terjemahan “Surat yang saya tulislah yang saya kirim” menangkap kontras ini lebih baik daripada terjemahan netral.
Aspek tidak sama dengan tanggal kejadian
Ti menyatakan bahwa tindakan telah terjadi, tetapi tanggalnya ditentukan oleh konteks atau keterangan waktu. Ń menunjukkan kegiatan yang sedang berlangsung dalam pola yang dibahas di sini, bukan tanggal kalender tertentu. Bahasa Yoruba tidak mengharuskan setiap kata kerja berubah menjadi bentuk lampau hanya karena kalimat diawali cerita tentang masa lalu.
Bandingkan Ó sọ pé òun ti dé, “Ia mengatakan bahwa ia sudah tiba”, dengan Ó sọ pé òun ń ṣiṣẹ́, “Ia mengatakan bahwa ia sedang bekerja”. Perbedaannya terletak pada keadaan tindakan yang dilaporkan. Untuk mengetahui apakah kegiatan itu berlangsung kemarin atau sekarang, pembaca masih perlu melihat konteks.
Jaga batas cakupan makna
Cakupan berarti bagian mana yang dipengaruhi oleh suatu penanda. Pada Ohun tí ó ṣe pàtàkì jùlọ ni pé a gbọ́dọ̀ ṣiṣẹ́, kewajiban dalam gbọ́dọ̀, “harus”, berlaku pada bekerja. Kewajiban tersebut tidak berarti bahwa orang “harus menganggapnya penting”. Demikian pula, syarat di awal kalimat harus dibedakan dari isi pesan di akhirnya.
Kebiasaan yang bermanfaat adalah merangkum setiap lapisan dalam bahasa Indonesia: “syaratnya …”, “orang yang dimaksud …”, “pesannya …”, “yang ditonjolkan …”. Jika rangkuman-rangkuman itu selaras, biasanya struktur panjangnya sudah terbaca dengan benar.
Kiat berlatih
- Bongkar satu kalimat menjadi tiga atau empat potongan. Gunakan contoh syarat tentang surat. Catat syarat utama, keterangan orang, instruksi, dan isi pesan secara terpisah. Setelah itu baca kalimat utuh tanpa kehilangan hubungan antarbagian.
- Bangun kalimat sedikit demi sedikit. Mulai dari Mo rí ọkùnrin náà, “Saya melihat laki-laki itu”. Tambahkan keterangan untuk memperoleh Mo rí ọkùnrin tí ó sọ pé òun fẹ́ lọ, “Saya melihat laki-laki yang mengatakan bahwa ia ingin pergi”. Setiap kali menambah lapisan, sebutkan siapa subjeknya dan apa fungsinya.
- Bandingkan satu perubahan saja. Baca dua contoh surat dengan dan tanpa fokus ni, lalu bayangkan pertanyaan yang cocok untuk masing-masing. Pada latihan lain, ganti isi laporan dari ti dé, “sudah tiba”, menjadi ń ṣiṣẹ́, “sedang bekerja”. Jangan mengubah semua unsur sekaligus; satu perubahan membuat perbedaan makna lebih mudah dikenali.
Konsep terkait
- Dasar yang perlu dikuasai: Klausa relatif dengan tí — membantu mengenali orang atau benda sebelum menggabungkan beberapa lapisan keterangan, laporan, dan fokus.